Kegelisahan seorang Ibu

Ketika pelukis Afriani beserta keluarga pindah ke Jakarta dari Batam, dia tentu berharap dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Bukanlah Jakarta merupakan ibu kota negara, kota yang penuh dengan gedung bertingkat dan kota yang menjanjikan kesempatan bagi orang-orang kreatif. Afriani kemudian berdiam bersama warga lain di pemukiman kumuh. Dia menyaksikan anak-anak yang harus bermain di rel kereta api, pedagang pinggir jalan yang berkali-kali terkena razia dan anak-anak yang harus mengerjakan pekerjaan sekolah di kamar sumpek. Air bersih sukar didapat. Ke toilet harus bergantian. Jakarta ternyata bukanlah kota yang ramah untuk keluarga Afriani. Untuk hidup di Jakarta perlu biaya dan biaya hidup yang layak ternyata tidak sedikit. Kehidupan mereka yang berjuang hidup  di perumahan kumuh dan pedagang yang setiap hari berjualan di pinggir jalan dalam suasana yang tak tenang terekam dalam lukisan Afriani. Ketika setiap hari dia  melihat bahkan ikut merasakan kehidupan tersebut  dia mencurahkan kegelisahannya di kanvas. Betapa tidak gelisah, sebagai seorang perempuan, juga seorang ibu dia mendambakan kehidupan yang layak untuk anaknya tumbuh dan berkembang. Gizi yang baik, sekolah, tempat bermain serta lingkungan sosial yang mendukung anak tumbuh dan berkembang menjadi remaja harapan bangsa. Namun kenyataannya dia menyaksikan anak-anak ketakutan ketika melihat razia kamtib, anak-anak telah menyaksikan kekerasan dan ketidakadilan. Haruskah Afriani menyerah pada keadaan dan hanya memotret lingkungannya?

Pada bulan April ini kita kembali mengenang Ibu Kartini. Ibu kartini hidup dalam zaman penjajahan. Beliau juga waktu itu terkungkung dalam lingkungan adat jawa yang belum mendukung pengembangan cita-cita seorang perempuan. Namun Ibu Kartini tak menyerah. Pikirannya melambung jauh. Beliau memikirkan perkembangan perempuan Indonesia. Pikirannya, sekurangnya seperti yang tercatat dari surat-suratnya kepada sahabatnya di negeri Belanda menggambarkan pemikiran yang dalam dan jauh kedepan. Suasana lingkungan yang tidak menguntungkan waktu itu, tidak menjadikan Ibu Kartini tumbuh kerdil. Bahkan tantangan yang dihadapinya dan kehidupan sehari-hari yang disaksikannya menjadi ilham baginya untuk kemajuan perempuan Indonesia.

Afriani juga dapat menjadikan kegelisahannya menjadi hal yang positif. Dia tak perlu hanya berkeluh kesah. Kemiskinan, ketidakadilan  yang disaksikannya sehari-hari dapat menjadi titik tolak untuk mengadakan perubahan. Kita harus menjadi masyarakat yang lebih sejahtera, berpendidikan dan memiliki taraf kesehatan yang lebih baik. Lukisan Afriani banyak menggambarkan kehidupan ibu dan anak. Ternyata di tengah kesulitan yang dihadapi kita dapat menyaksikan ibu yang penuh kasih sayang memandikan anaknya. Anak-anak yang dengan gembira bermain bola dan tak kalah pentingnya anak-anak yang tetap belajar meski di kamar sumpek. Di lukisan Afriani kita menmyaksikan mata-mata yang penuh harapan. Kita tak menyaksikan kebencian dan dendam karena perubahan yang kita harapkan di masyarakat hendaknya dilakukan dengan empati dan kasih sayang. Mudah-mudahan lukisan Afriani yang dipamerkan ini, sempat disaksikan oleh mereka yang memimpikan perubahan nyata pada masyarakat miskin. Para pejabat, aktivis LSM, tokoh agama, akademisi serta anggota masyarakat lain hendaknya peduli pada keadaan yang dilukiskan Afriani serta tergerak hati mereka untuk merubahnya.

Prof Dr. Samsuridjal Djauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: