Bantuan Asing dan Upaya Penanggulangan AIDS di Indonesia

Pada akhir bulan Maret 2007, aktivis AIDS di Indonesia dikejutkan dengan berita penghentian sementara dana Global Fund di Indonesia. Selama ini Indonesia menerima bantuan asing untuk melaksanakan upaya penanggulangan AIDS di Indonesia dalam jumlah yang cukup besar. Bantuan tersebut berasal dari dana bantuan bilateral antar pemerintah, lembaga kemanusiaan seperti Yayasan Ford, Yayasan Rockefeller, Yayasan Asia, dan juga dana PBB melalui Global Fund. Bantuan dana Global Fund jumlahnya jutaan dolar dan digunakan untuk berbagai kegiatan diantaranya konseling dan testing sukarela, pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi serta bantuan obat AIDS terutama obat AIDS lini dua. Meski penghentian dana Global ini masih  bersifat sementara namun cukup menimbulkan kehebohan di kalangan aktivis AIDS. Beragam tanggapan timbul mulai dari yang menyalahkan pihak  pengelola Indonesia sampai ajakan untuk mulai memikirkan upaya penanggulangan AIDS yang lebih bersandarkan kekuatan sendiri. Sampai saat ini bantuan asing dalam upaya penanggulangan AIDS di Indonesia diperkirakan mencapai 70% biaya penanggulangan secara keseluruhan.  

Bantuan dan Ketergantungan 

Bantuan dana asing maupun bantuan teknis dapat meningkatkan kemandirian penerima namun juga dapat menimbulkan ketergantungan yang berkepanjangan. Sedikitnya terdapat tiga bentuk pendekatan bantuan asing yaitu : 

  1. Bantuan diberikan dengan catatan penerima bantuan harus menyesuaikan diri dengan syarat-syarat yang ditetapkan pemberi bantuan. Dalam bentuk ekstrim, syarat tersebut dapat berupa perubahan cara berpikir, kebiasaan bahkan budaya masyarakat  penerima. Penerima bantuan dianggap tidak berhasil melakukan penanggulangan AIDS karena kebiasaan dan kebudayaannya kurang mendukung. Untuk itu kebiasaan bahkan kebudayaan penerima perlu meniru kebiasaan dan budaya pemberi bantuan. Pendekatan ini akan menyebabkan penerima kehilangan jati diri dan program hanya akan didukung kelompok elit dan tak mampu menembus masyarakat luas. Bahkan pendekatan ini cenderung memicu wacana yang kontra-produktif untuk upaya penanggulangan AIDS di Indonesia.
  2. Bantuan diberikan dengan pemahaman penerima kurang mempunyai sumber daya yang dibutuhkan. Dukungan yang diberikan berupa tenaga ahli dan dana. Namun,  dukungan ini kurang memperhatikan potensi lokal. Dukungan diberikan atas dasar pengalaman negara pemberi bantuan. Pendekatan ini mungkin berhasil mendorong program namun keberhasilan ini hanya bersifat sementara karena jika bantuan dihentikan program pun akan berhenti pula.
  3. Pendekatan ketiga lebih memahami sumberdaya setempat dan memberikan bantuan  sesuai kebutuhan lokal. Dukungan diberikan untuk meningkatkan kemampuan lokal yang telah ada. Pendekatan ini memerlukan kesabaran namun jika dilakukan dengan baik akan dapat menumbuhkan kegiatan yang berkesinambungan. Oleh masyarakat penerima bantuan dianggap bersifat pelengkap terhadap kegiatan mereka. Meski bantuan dihentikan kegiatan masyarakat akan tetap  berjalan terus.

 

Bantuan asing terhadap upaya penanggulangan AIDS di Indonesia merupakan bantuan yang amat berarti karena pemerintah dan masyarakat Indonesia mempunyai sumber daya yang terbatas. Namun jika bantuan tersebut dilakukan melalui pendekatan pertama dan kedua maka yang akan dihasilkan adalah ketergantungan yang berkepanjangan. Bahkan dapat terjadi  bantuan asing bukanlah  memperkuat potensi masyarakat yang ada namun meruntuhkan inisiatif masyarakat karena kegiatan masyarakat yang ada harus bersaing dengan kegiatan baru yang didanai oleh lembaga donor internasional  yang mempunyai pengalaman dan dana yang amat mencukupi. Sebagian aktivis AIDS Indonaesia bahkan  meninggalkan kelompok dampingan mereka dan bergabung dengan kegiatan lembaga donor yang lebih menjanjikan fasilitas yang memadai. 

Membangun Kemandirian 

Upaya penanggulangan AIDS di Indonesia telah berlangsung cukup lama. Strategi penanggulangan AIDS pertama disusun tahun 1994. Jadi upaya penanggulangan AIDS dapat dikatakan telah berjalan sepuluh tahun lebih. Namun banyak aktivis AIDS Indonesia yang merasa risau karena dalam perjalanan upaya penanggulangan AIDS ini semakin lama semakin bergantung pada bantuan asing. Dalam upaya penanggulangan AIDS memang tak ada negara yang akan dapat menjalankannya sendiri tanpa kerjasama dengan negara lain. Namun sifat kerjasama hendaknya didasari oleh prinsip kesetaraan serta manfaat bagi kedua pihak. Sudah waktunya dilakukan pemikiran ulang terhadap upaya penanggulangan AIDS agar Indonesia tidak makin tergantung pada bantuan asing. Kita harus membayangkan suatu waktu bantuan asing semakin menurun dan  kita harus mampu mandiri . Untuk itu perlu perubahan sikap. Sikap baru  yang perlu ditumbuhkan untuk membangun kemandirian adalah kesederhanaan dan menghapuskan keistimewaan. 

Kesederhanaan diperlukan untuk menunjang program yang berhasil guna. Kebiasaan untuk mengadakan acara-acara mewah di hotel berbintang, kunjungan rombongan  ke luar negeri, biaya konsultan, biaya transportasi, dan akomodasi yang mahal perlu dikurangi dan dialihkan menjadi biaya untuk program yang nyata bermanfaat bagi masyarakat. Masyarakat kita masih amat membutuhkan dana untuk penyuluhan, pencegahan, dan dukungan dan terapi. 

Pada pertemuan nasional AIDS ketiga di Surabaya, Prof. Yusuf Barakbah dari Universitas Airlangga sudah mulai mengemukakan agar masyarakat tidak lagi mendiskriminasi orang dengan HIV/AIDS namun sekaligus beliau juga menyampaikan agar AIDS diperlakukan sama dengan penyakit infeksi atau penyakit kronik lainnya. Dengan mengintegrasikan layanan HIV/AIDS ke layanan kesehatan yang sudah ada, biaya  akan dapat dihemat. Orang dengan HIV/AIDS (Odha) tidak ingin didiskriminasi namun sebenarnya  mereka  juga tidak ingin diistimewakan. 

Dalam kunjungan Direktur Jenderal UNAID, Dr. Peter Piot di Indonesia, beliau  menegaskan bahwa Indonesia sedang berada di tepi jurang. Tergantung pada kita semua apakah kita akan tetap  berada di  tepi jurang ataukah kita akan jatuh ke jurang yang dalam sehingga sulit untuk bangkit kembali. Pemerintah pusat, daerah, lembaga swadaya masyarakat dan kalangan bisnis perlu menumbuhkan kepedulian agar kita tak terjerumus ke dalam jurang yang dalam. Kita memang masih memerlukan bantuan asing namun kita juga  perlu menumbuhkan sikap bahwa kita harus melaksanakan upaya penanggulangan AIDS  di Indonesia dengan lebih mengutamakan potensi nasional kita. Penghentian sementara bantuan dana Global Fund hendaknya kita jadikan momentum untuk menggalang potensi nasional itu. 

11 Responses to “Bantuan Asing dan Upaya Penanggulangan AIDS di Indonesia”

  1. sibermedik Says:

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Salam kenal dok,
    Sekalian tanya..apa benar ukuran virus HIV lebih kecil daripada pori2 kondom? saya pernah dengar itu dari statemen Prof.Dadang Hawari Sp.KJ.

    Kalau memang itu benar, kenapa penanggulangan AIDS masih menggunakan kampanye kondom?

    Btw, Mohon Maaf Lahir batin sekalian dok..
    SELAMAT IDUL FITRI 1428H *Maaf Telat*

    Wassalamualaikum Wr.Wb

  2. sibermedik Says:

    makasih dok atas jawabannya
    http://www.sibermedik.wordpress.com

  3. Yusuf Solo Says:

    Salam kenal sebelumnya walaupun terlambat… selamat idul fitri mohon maaf lahir dan batin…
    memang baiknya kita tidak mendiskriminasikan pasien AIDS…
    saya sendiri pernah berjumpa dengan pasien yang saya duga menderita AIDS dan ia meninggal dengan tenang… saya tidak pernah berusaha menanya2 kepada keluarganya.. mengenai bagaimana perilaku anaknya… sudah menjadi ketentuan dari yang di atas…
    di Solo bersama dengan SEROJA sedikit banyak saya juga ikut membina anak2 jalanan…

  4. cemara Says:

    halo dok, saya ada kenalan yg teridentifikasi AIDS, yg saya ingin tanyakan apakah ada bantuan dana ada pengobatan medis lainnya untuk penderita.
    Bila ada bagaimana cara mendapatkannya, karena kenalan saya ini tergolong orang yang tidak mampu. jika punya informasi / channel mohon kesediaan dokter untuk membantu untuk menginformasikan di email saya ace_mar2001@yahoo.com

    sekali lagi terima kasih banyak . . .

  5. nurul agustina Says:

    Ass wr wb

    Senang sekali bisa “nemu” website Bapak dan mengikuti tulisan-tulisan Bapak. Soal ketergantungan pada dana asing dalam upaya penanggulangan AIDS di Indonesia memang merepotkan ya? Di satu sisi saya paham dengan kebutuhan teman-teman yang bekerja di bidang ini. Tidak sedikit yang memang nafkah keluarganya tergantung dari pekerjaan mereka sebagai aktivis AIDS. Tapi harus diakui juga bahwa banyak yang bekerja di bidang ini dengan motivasi yang melulu “profesional”, artinya kalau ada kesempatan kerja di tempat lain yang lebih berkilau gajinya, ya loncatlah mereka. Teman saya di FHI ada yang pernah mengeluh bahwa banyak LSM bentukan mereka yang akhirnya hanya jadi ajang latihan kerja (mungkin dianggapnya seperti Balai Latihan Kerja, gitu ya Pak?) untuk selanjutnya, kalau udah dianggap cukup dan ada tawaran lain, pindah deh mereka ke tempat lain yang mungkin nggak ada hubungannya dengan AIDS atau bahkan kesehatan secara umum. Saya sekarang lagi jadi konsultan di KPA untuk membantu penulisan laporan UNGASS. Dan pertanyaan saya juga kl sama dengan yang dipikirkan teman di FHI itu: Bagaimana ya, supaya mereka yang bergiat di bidang ini punya “ghirah” dan keberpihakan yang lebih besar lagi terhadap isu AIDS dan? Perlu mendatangkan ideolog dari negaranya Pak Castro atau, yang lebih dekat, dari teman-teman Dompet Dhuafa kali ya Pak?

    Salam,
    nurul

  6. rizkyp13 Says:

    Terima kasih atas infonya prof.
    http://rizkyp13.multiply.com

  7. zardens Says:

    dok saya mau tanya… giman caranya mendapatkan dana untuk membantu penderita HIV/AIDS saya tinggal dimalang, dan membantu satu lembaga yang saat ini menampung kurang lebih 10 penderita HIV. mungkin dokter punya link atu chanel bisa dihubungkan dengan saya. mungkin dr bisa kirim lewat email saya

    zardensoc@gmail.com

  8. betrizz Says:

    salam doK, mau nanya memangnya dalam MoU UNAIDS tertera bahwa penanggulangan HIv AIDS salah duanya dengan harm reduction dan kondom, ya????? mohon di jawab dan isi MoU itu apa saja. makasih

  9. samsuridjal Says:

    UNAIDS mendukung program Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia. Program penanggulangan dibuat sendiri oleh KPA Indonesia. Dukungan dana menunjukkan bahwa UNAIDS setuju dengan program tersebut. Program lengkap Penanggulangan AIDS di Idnonesia 2007 -2010 dapat di lihat di website KPA. Pada intinya KPA berusaha untuk meningkatkan cakupan layanan menjadi 80 % dengan efektivitas program 60%. Melalui program ini diharapkan akan terjadi pelambatan kenaikan kasus baru AIDS di Indonesia secara nyata.

  10. betrizz Says:

    salam dok..
    lho jadi UNAIDS tidak memiliki perjanjian dengan Indonesia, justru UNAIDSlah mendukung KPA mengenai penanganan HIV/AIDS????saya baru tahu…
    tapi dok, UNGASS sendiri itu produk buatan mana UANIDS kah???selama inikan Indonesia berkomitment pencapaian UNGASS dalam pencegahan.
    kapan sih Indonesia mulai bergabung dengan UNAIDS????
    mohon dijawab dok…

  11. rosita_Ls Says:

    selamat malam dok.
    saya ingin bertanya apakah dokter tau mengenai MoU antara Global Found/Ausaid dengan KPA.

    mohon bantuannya dok. saya lagi menyusun skripsi. terima kasih sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: