Tantangan Pengobatan AIDS di Indonesia

Meski obat Antiretroviral (ARV) yang digunakan untuk pengoabtan AIDS sudah dinyatakan bermanfaat pada tahun 1996 namun penggunaan obat ini  secara meluas di negara yang sedang berkembang barulah pada tahun 2004.Obat ARV tidak hanya menurunkan angka kematian dan kesakitan tapi juga meningkatkan kualitas hidup Orang dengan HIV/AIDS (Odha). Bahkan risiko penularan HIV pada orang lain juga akan berkurang karena jumlah virus dalam tubuh orang yang terinfeksi dapat ditekan serendah mungkin. Berkat kebijakan organisasi kesehatan sedunia WHO , negara yang sedang berkembang dimungkinkan menggunakan obat ini. Di Indonesia berkat dukungan pemerintah obat ini juga sudah digunakan secara cuma cuma sejak tahun 2004. Bahkan sejak akhir tahun  2003  PT Kimia Farma telah mampu memproduksi obat ini  di Indonesia. Dengan subsidi penuh pemerintah diharapakan obat AIDS dapat digunakan secara merata oleh masyarakat yang memerlukan. Namun pada pelaksanaan  penggunaan  obat ARV di Indonesia selama dua tahun ini masih ditemukan berbagai hambatan.  

Diagnosis Terlambat  

Penelitian Dr Indah Mahdi  pada sebuah rumah sakit di Jakarta, menunjukkan bahwa sekitar 30 % Odha yang dirawat di rumah sakit meninggal pada tahun pertama . Pada umumnya kematian terjadi di rumah sakit akibat infeksi oportunistik. Bahkan tidak sedikit Odha  meninggal sebelum sempat menggunakan obat ARV. Keterlambatan datang berobat disebabkan oleh kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan AIDS masih kurang bahkan masih banyak olrang yang takut menjalani tes HIV. Jika di berbagai klinik di rumah sakit di luar negeri Odha telah menggunakan obat ARV pada waktu kekebalan tubuhnya masih cukup tinggi maka di Indonesia sebagian besar datang dalam keadaan kekebalan tubuh yang amat rendah. Kekebalan tubuh yang rendah berisiko timbulnya infeksi oportunistik (infeksi yang menumpang) dan infeksi ini dapat menimbulkan kematian. Jadi untuk meningkatkan keberhasilan terapi kita perlu bersama mengajak masyarakat  untuk menjalani tes sehingga infeksi HIV dapat ditemukan pada stadium dini. Layanan testing dan konseling sukarela juga harus disediakan secara merata di seluruh tanah air.Pemerataan layanan ARV diusahakan dengan menyediakan obat ini di 75 rumah sakit di Indonesia. Jumlah ini tentu masih kurang mengingat luasnya wilayah negeri kita. Selain itu kemampuan layanan juga masih beragam sehingga di beberapa unit layanan, kemampuan pelayanan masih harus ditingkatkan. Selain itu akibat kepekaan petugas kesehatan yang masih kurang  terhadap gejala  AIDS maka banyak kasus yang tak terdiagnosis.  Masih sering di dapatkan penderita yang mengalami keluhan berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain tanpa ditemukan diagnosis pasti. Barulah setelah tes HIV dilakukan, diketahui sebenarnya yang bersangkutan menderita AIDS.  

Pengadaan Obat ARV  

Di Indonesia pengadaan obat ARV termasuk cepat. Setelah Thailand . Indonesia merupakan negara kedua di ASEAN yang memproduksi obat ARV. Kemampuan memproduksi sendiri ini dapat dicapai berkat kerjasama yang baik antara aktivis AIDS, pemerintah , DPR dan industri farmasi (PT Kimia Farma). Kemampuan memproduski sendiri obat ARV penting sehingga kita tak bergantung pada obat impor . Dengan demikian kesinambungan obat ARV dan juga harganya dapat dikendalikan. Sejarah pengadaan obat ARV dinegera yang sedang berkembang merupakan cerita yang penuh perjuangan . D Thailand pemicu pengadaan obat ARV di dalam negeri adalah penangkapan obat ARV generik yang diselundupkan oleh aktivis AIDS Thailand. Mereka membeli obat ARV generik di India yang harganya hanya skitar 5 % dari obat paten. Ketika membawa masuk ke Thailand  obat ini tertahan arena tidak dilengkapi surat surat yang diperlukan. Fihak bea cukai Thailand  kemudian berencana  memusnahkan obat AIDS ini. Timbul silang pendapat yang cukup menegangkan tentang pemusnaah obat ini. Kenapa obat yang amat diperlukan oleh Odha di Thailand justru akan dimusnahkan oleh pemerintah Thailand ?. Kemudian timbul  aksi unjuk rasa menentang pemusnahan obat ini yang makin lama makin besar . Aksi unjuk rasa ini juga didukung oleh para akademisi . Sebagai jalan keluar akhirnya pemerintah Thailand memutuskan agar obat ARV di produski di Thailand. Di Indonesia gagasan pengadaan obat ARV produksi di dalam negeri timbul seteleh salah seorang pengurus Kelompok Studi Khusus AIDS FKUI/RSCM berkunjung ke India dan berhasil mendapat komitmen   produsen obat ARV generik India untuk menyediakan obat bagi  Odha di Indonesia. Pokdisus mendapat izin dari Badan POM dan Depkes untuk melaksanakan  layanan akses khusus obat ARV. Ternyata kebutuhan  obat ARV generik cukup tingi sehingga Pokdisus tak mampu lagi  menalangi pembelian obat ARV generik ini dan mendorong perusahaan obat milik pemerintah untuk memproduksi obat ini  di Indonesia. PT Kimia Farma beresedia memproduksi obat ARV ini . Sudah tentu  perusahaan obat multi nasional yang  mempunyai paten obat ini tidak tingal diam. Untunglah masalah ini dapat diatasi melalui keputusan presiden yang menyatakan bahwa obat ARV merupakan kebutuhan masyarakat dan merupakan salah satu upaya  dalam penanggulangan AIDS di Indonesia .Produsen obat paten diberi kompnesasi sebesar 0,5 % dari penjualan ARV generik. 

 

Kebutuhan Meningkat  

Penggunaan obat ARV ternyata meningkat tajam. Jika pada awal 2004 hanya sekitar 700 orang yang menggunakan maka sampai Juni 2006 angkanya sudah menjadi 6300 orang. Jumlah ini akan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan kepedulian perugas kesehatan yang mengadakan penyuluhan dan testing, konseling sukarela. Sampai saat ini biaya yang terbesar untuk pengadaan obat ARV ini berasal dari anggaran pemerintah. Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen yang tinggi pada program WHO untuk menyediakan obat ARV.Namun di masa depan dua hal penting yaitu resistensi obat dan kelangkaan bahan baku  dapat merupakan penghalang. Resistensi HIV terhadap obat ARV mudah timbul jika penggunaan obat tidak dilaksanakan dengan baik sesuai pedoman WHO . salah satu faktor penting adalah penggunaan obat secara teratur, berkesinambungan dnegan dosis yang benar.Jika terjadi putus obat maka risiko resistensi akan meningkat.. Penggunaan obat ARV tidak boleh dihentikan meski keadaan pasien sudah baik.  Karena itulah sebelum mengunakan obat ini pasien perlu mempersiapkan diri dengan baik.Pasien perlu mendapat  informasi yang baik dan lengkap. Dengan demikian pengunaan obat ini dapat berjalan dengan baik. Selain itu jika ada infeksi oportunsitik misalnya tbc , maka infeksi oportunistik harus diobati lebih dahulu. Barulah sekitar 2 bulan kemudian terapi ARV disusulkan. Hambatan lain adalah kemungkinan kesulitan mendapat bahan baku. Selama ini bahan baku obat ARV diperoleh  dari India dan Cina. Kedua negara ini telah menjadi anggota WTO pada tahun 2005 sehingga di masa depan  bukan tidak mungkin akan terjadi pengurangan  pasokan bahan baku ARV dari kedua megara ini. Padahal kebutuhan obat ARV di kawasan Asia Tanggara semakin bertambah, Thailand membutuhkan sedikitnya obat ARV untuk 100.000 orang, Kamboja 20.000 orang, Indonesia sekitar 30.000 orang  belum lagi negara ASEAN lainnya. Memang peraturan  perdagangan internasional sekarang kurang berfihak pada  negara yang sedang berkembang. Namun keadaan ini tentu tidak membuat kita kecil hati. Pejuangan untuk terus  membantu saudara saudara kita yang memerlukan obat ARV perlu diteruskan. Tak kalah pentingnya juga usaha kita untuk terus meningkatkan kemandirian kita di bidang kesehatan. (Samsuridjal Djauzi, Kelompok Studi Khusus AIDS FKUI/RS Ciptomangunkusumo Jakarta)          

One Response to “Tantangan Pengobatan AIDS di Indonesia”

  1. знакомства для геев Says:

    в конце концов: отлично!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: