Peran universitas dalam penanggulangan AIDS

Di salah satu bangunan tua gedung Rumah Sakit Ciptomangunkusumo terdapat kelompok Studi Khusus AIDS FKUI/RSCM (Pokdi). Pokdi mempunyai sejarah panjang dan merupakan salah satu organisasi yang tanggap terhadap permasalahan AIDS di Indonesia. Media Aesculapius menemui Prof. Samsuridjal Djauzi, salah seorang pengurus Pokdi dan  dan berikut wawancara dengan beliau.  

 

Sejarah pendirian Pokdi 

Kelompok ini berdiri pada bulan Maret 1986, jadi sudah berumur 20 tahun lebih. Memang pada masa itu masih sedikit kepedulian terhadap masalah AIDS di Indonesia. Namun sekelompok staf pengajar FKUI yang mencermati masalah ini mengantisipasi AIDS akan menjadi masalah kesehatan di negeri kita seperti juga di Afrika dan Thailand. Apalagi pada akhir tahun 1985, Dr. Zubairi Djoerban menemukan kasus AIDS pertama di Jakarta. Kepedulian terhadap AIDS semakin meningkat. 

 

Apa yang dilakukan pada tahap permulaan ? 

Melakukan pengumpulan kepustakaan, membahas epidemiologi, cara penularan, perjalanan penyakit, infeksi oportunistik dsb. Memang pada tahap itu belum ada obat antiretroviral, sehingga AIDS dianggap sebagai penyakit yang mematikan. Kelompok menyadari pentingnya penyuluhan untuk mencegah penularan HIV lebih lanjut. Sehingga dilakukan penyuluhan baik untuk kalangan medis maupun awam. Selain itu berhasil diterbitkan buku tentang AIDS ynag merupakan buku pertama di Indonesia. Diantara editornya adalah Prof. Arjatmo Tjokronegoro. Selain itu Pokdi juga mempersiapkan sarana VCT dan diagnosis. Dr. Zubairi yang baru pulang dari Perancis mengembangkan pemeriksaan CD4 semula untuk pemantauan Leukemia namun juga kemudian dikembangkan untuk penunjang diagnosis AIDS. Sedangkan pemeriksaan anti HIV sudah dapat dilakukan di FKUI/RSCM tahun 1985 tak lama setelah HIV ditemukan. 

 

Perkembangan pasien  

Kasus amat sedikit pada permulaannya, mungkin sebulan hanya satu dua. Namun minat untuk mendapat pengalaman menatalaksana amat tinggi. Kasus yang ada dipelajari secara terpadu waktu itu dipimpin oleh Prof. A. Harryanto Reksodiputro. Karena anggota kelompok terdiri dari berbagai disiplin ilmu termasuk teman-teman dari preklinik maka pembahasan cukup mendalam. Kami juga menyediakan diri untuk menengok kasus AIDS di rumah sakit lain di Jakarta. Kasus-kasus tersebut dicatat dengan baik dan jumlahnya semakin lama semakin banyak. Kasus-kasus AIDS di rumah sakit swasta juga bertambah. Saya masih ingat menerima kasus AIDS di RS Infeksi Sulianti pada tahun 1992. Kasus ini pindahan dari rumah sakit Cinere dan malam hari sekitar setengah sebelas malam sehabis praktek saya berkesempatan memeriksanya di RS Sulianti. Pengalaman ini sekedar menggambarkan bagaimana antusiasnya kami mencari pengalaman menatalaksana AIDS. Sekarang Pokdi merupakan salah satu klnik yang ramai di rumah sakit Ciptomangunkusumo. Setiap hari Pokdi melayani 40-50 pasien dan kasus yang terekam baik di komputer sudah mencapai 2000 orang lebih. Ini merupakan kerja keras para anggota Pokdi dan kepercayaan masyarakat, layanan Pokdi cukup bermutu dan manusiawi.  

 

Peran Pokdi di dalam penanggulangan nasional 

Semula Pokdi menjadi salah satu anggota Eksofisio Penanggulangan AIDS Nasional. Namun dengan perombakan struktur tidak lagi. Meski demikian Pokdi secara mandiri melakukan kegiatan baik di Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia untuk menginformasikan ancaman AIDS di Indonesia serta juga berupaya menyiapkan tenaga kesehatan untuk menatalaksanakan kasus AIDS. Berbagai pelatihan dilakukan mulai dari pelatihan konselor sekitar tahun 1990 dan pelatihan penatalaksanaan. Kami juga mengadakan pertemuan bulanan yang tidak hanya mengundang anggota Pokdi tapi juga teman sejawat dari rumah sakit lain. 

 

Bagaiamana cerita Pokdi mengupayakan tersedianya obat ARV generik di Indonesia 

Ya, itu ceritanya cukup panjang. Pada tahun 1996 diketahui bahwa gabungan 3 macam obat ARV mempunyai manfaat yang baik dalam terapi AIDS. Manfaatnya meliputi penurunan angka kematian dan masuk rumah sakit, pemulihan kembali sistem imun (peningkatan CD4), penekanan jumlah HIV di darah sampai tak terdeteksi serta mengurangi risiko penularan pada orang lain karena jumlah virus dalam tubuh penderita amat sedikit. Namun obat tersebut harganya mahal. Sebulan sekitar 8-10 juta. Sudah tentu bagi masyarakat di negara miskin obat semahal itu tak mungkin terjangkau. Untunglah pada tahun 2000 India berhasil membuat obat generik ARV, keberhasilan ini merupakan satu-satunya harapan masyarakat di negara berkembang karena harganya hanya sekitar 300.000 perbulan. Namun harapan tersebut tak dapat terlaksana begitu saja. Pemerintah Afrika Selatan yang membeli obat dari India dan membagikan obat ARV tersebut pada rakyatnya. Namun pemerintah Afrika Selatan dituntut oleh perusahaan obat multi nasional telah melanggar hak paten. Untunglah pengadilan memenangkan pemerintah Afrika Selatan karena pemerintah tidak memperdagangkan obat tersebut tapi membagikan dengan cuma-cuma untuk kepentingan rakyatnya. Di Thailand pun perusahaan multi nasional tak mengijinkan begitu saja pengadaan obat ARV generik di negara tersebut. Meski banyak kritik pada perusahaan obat multi nasional tersebut namun nampaknya mereka tak rela obat ARV menjadi murah dan digunakan di negara miskin. Untunglah pada pertemuan WTO di  Qatar tahun 2003 disepakati bahwa obat yang diperlukan untuk penyakit yang banyak terdapat di masyarakat seperti Tbc, malaria  dan AIDS dapat dibuat bentuk generiknya. Dengan demikian terbuka peluang untuk menggunakan obat generik di negara berkembang secara terbuka. Pokdi mengirim seorang staf ke India untuk memperoleh obat generik bagi Indonesia. Saya masih ingat karena kita tak punya uang staf tersebut hanya membawa uang seribu dolar Amerika sehingga hanya memperoleh 30 paket obat ARV dan itulah yang menjadi cikal bakal penggunaan obat ARV generik di Indonesia. 

 

Prosedur birokrasinya ?  

Sudah tentu Pokdi harus memperoleh izin dari badan POM dan Depkes, untunglah izin tersebut dapat diperoleh. Penggunaan obat generik di Indonesia dengan demikian sudah berjalan sejak tahun 2001 karena kemudian Pokdi mendatangkannya dari India melalui pos.  

 

Apakah beban ini tak terlalu berat bagi Pokdi, darimana modal untuk melaksanakan tugas tersebut 

Ini memang merupakan beban berat bagi Pokdi. Kami tidak  punya uang, hanya karena punya idealisme kami semua berusaha mewujudkan mimpi kami. Jika perlu keluar uang dari kantong sendiri. Perjuangan untuk melaksanakan terapi ARV di kalangan ASEAN juga dipelopori oleh Pokdi dengan mengadakan pertemuan Jogja Round Table Meeting yang dihadiri oleh negara-negara ASEAN, sekretariat ASEAN, peninjau dari Australia, Amerika, Jepang, India dll. Di sinilah suara keras negara ASEAN di kumandangkan berupa keinginan untuk memberikan terapi ARV pada masyarakat yang memerlukan di ASEAN. Kami menyadari sepenuhnya upaya pencegahan merupakan upaya utama namun karena jumlah orang yang terinfeksi sudah banyak maka upaya terapi tak dapat diabaikan. Kami juga ingin penderita di negara kami dapat diselamatkan. 

 

Dana untuk pertemuan tersebut darimana ? 

Untuk peserta ASEAN datang dengan biaya transportasi mereka sendiri. Kami hanya menanggung akomodasi dan makan. Peserta sekitar 100 orang. Biaya untuk  akomodasi dan makan sederhana ini didapat dari biaya pendaftaran peninjau yang lumayan banyak dan juga kami memperoleh dukungan dari WHO sepuluh ribu dolar dan Yayasan Ford sepuluh ribu dolar. Dengan biaya sehemat mungkin pertemuan ini dapat terlaksana. Pertemuan ini diliput oleh sebuah majalah di Australia dan dikatakan merupakan pertemuan yang paling hemat dan sederhana yang mereka saksikan. Kerjasama selanjutnya adalah kerjasama untuk menjamin tersedianya obat ARV generik di kawasan ASEAN. Produsen obat ARV generik di ASEAN adalah Thailand, Indonesia (PT Kimia Farma) dan Vietnam. Jadi negara ASEAN harus saling membantu apalagi kebutuhan ini semakin lama semakin tinggi. 

 

 

 

Kalau begitu peran akademisi dalam penangulangan AIDS di Indonesia cukup berarti 

Sejarahnya memang demikian. Tidak hanya di UI. Dr. Tuti Parwati di Universitas Udayana, Prof. Guntur di Universitas Brawijaya, Dr. Rachmat Sumantri di Universitas Pajajaran, Prof. Halim Mubin di Universitas Hasanudin dan banyak lagi teman-teman di Universitas yang telah mempelopori upaya penangulangan AIDS di Indonesia. Dengan demikian sesuai dengan tujuan pembangunan Milenium tahun 2015 agar AIDS di Indonesia dapat dikendalikan dan diturunkan angka penularannya maka semangat tersebut perlu dihidupkan terus. Mudah-mudahan keberadaan Pokdi akan dapat melayani kebutuhan masyarakat. Ini akan dapat kita capai jika staf pengajar, mahasiswa serta pimpinan fakultas peduli pada peran fakultas  yang cukup strategis ini. Salah satu semangat yang perlu dijaga dalam upaya penanggulangan AIDS dan mungkin juga dalam bidang lain adalah semangat menuju kemandirian, membangun  potensi dalam negeri serta menghindari ketergantungan pada bantuan luar negeri.           

 


 

Pertemuan dengan teman-teman di kawasan ASEAN 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Responses to “Peran universitas dalam penanggulangan AIDS”

  1. wahib Says:

    gmna caranya untuk aktif dalam lembaga pemberdayaan HIV/AIDS?

  2. Pisang Says:

    Terima Kasih Prof Samsu…
    Tanpa anda kami pasti sudah tiada….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: