Ongkos Tak Berbuat

Judul tulisan ini merupakan terjemahan cost of inaction yang menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan konsultasi HIV/AIDS Asia Pasifik di Pattaya, Thailand beberapa waktu yang lalu. Untuk melakukan upaya penanggulangan penyakit diperlukan biaya namun jika upaya penanggulangan tidak dilakukan karena penyakit tersebut masih belum merupakan ancaman ternyata biayanya dikemudian hari akan lebih besar. Rupanya dalam penyakit menular seperti juga kebakaran hutan upaya pencegahan semasa penyakit belum menular luas lebih hemat daripada jika sudah meluas ke seluruh negeri. Permasalahan biaya tak berbuat atau tak cukup berbuat dalam upaya penanggulangan penyakit menular di negeri kita perlu juga dibahas sehingga tidak timbul sikap bahwa kita dapat berhemat dengan tidak melakukan upaya pencegahan. Permasalahan ini mungkin relevan jika kita kaitkan dengan dua penyakit menular yang menjadi perhatian masyarakat yaitu flu burung dan demam berdarah serta suatu masalah yang semakin sering dibicarakan yaitu sampah.  

Flu Burung  

Sampai tanggal 5 Juni 2006 jumlah kasus flu burung di Indonesia menurut Departemen Kesehatan telah mencapai 51 orang dengan kematian 37 orang. Dalam mengikuti peningkatan kasus flu burung penulis teringat pada peningkatan kasus HIV/AIDS pada awal tahun sembilan puluhan, dalam satu bulan hanya satu dua kasus baru. Namun sekarang kasus HIV/AIDS yang tercatat telah melebihi 10.000 dengan estimasi di masyarakat pada tahun 2002 saja sudah mencapai 90.000 sampai 130.000. Apakah peningkatan kasus flu burung di Indonesia akan menyerupai peningkatan kasus HIV/AIDS ? Mungkin tidak. Sampai saat ini penularan flu burung masih dianggap dari  unggas ke manusia. Namun kalau terjadi penularan dari manusia ke manusia banyak pakar yang berpendapat akan terjadi penularan yang amat cepat (pandemi) dengan korban meninggal yang amat banyak. Apa yang harus dilakukan masyarakat pada masa jumlah kasus flu burung ini masih terbatas ? Masyarakat perlu mengamalkan perilaku baru jika kontak dengan unggas. Harus menjaga kebersihan, menggunakan sarung tangan atau masker jika perlu dan tidak sembarangan mendekati unggas yang sakit atau mati. Apa yang harus diperbuat oleh pemerintah untuk membentuk perilaku baru ini ? Pemerintah perlu melakukan penyuluhan dan pembinaan sehingga perilaku baru tersebut diamalkan oleh seluruh warga Indonesia yang berkontak baik secara langsung maupun tak langsung dengan unggas. Indonesia merupakan negara yang luas dengan jumlah penduduk melebihi 200 juta. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk merubah perilaku tersebut. Padahal pandemi flu burung masih merupakan perkiraan belum tentu terjadi. Apakah tidak lebih hemat sementara belum pasti kita melakukan upaya sekadarnya saja ? Dalam kunjungan ke berbagai daerah saya berusaha untuk mengetahui sejauh mana masyarakat pada tingat pedesaan sudah merubah cara berkontak dengan unggas. Sudah tentu yang saya peroleh hanyalah kesan, namun kesan tersebut berupa tidak ada perubahan yang dilakukan. Masyarakat berkontak dengan unggas seperti belum ada flu burung, padahal pemerintah telah menyatakan flu burung telah ditemukan di sebagian provinsi di Indonesia. Masayarakat bukan tak pernah mendengar tentang flu burung, mereka kerap mendengar dari radio, menonton  TV atau membaca di surat kabar. Mereka hanya sekedar tahu tapi tak diajak secara aktif untuk merubah perilaku. Mereka membutuhkan contoh bagaimana cara berkontak dengan unggas sehingga risiko tertular flu burung dari unggas atau keluarga yang sedang sakit dapat dikurangi. Siapa yang dapat melatih mereka untuk menumbuhkan perilaku baru tersebut ?. Thailand yang melaporkan 23 kasus flu burung pada manusia (lebih sedikit daripada Indonesia) namun negeri ini telah memepersiapkan 800.000 relawan di pedesaan untuk menghadapi pandemi flu burung. Vietnam yang merupakan negara yang melaporkan jumlah kasus manusia tertinggi yang terkena flu burung (93 orang) telah melakukan latihan simulasi pandemi flu burung. Pada simulasi tersebut dipantau apa yang akan dilakukan masyarakat, petugas kesehatan masyarakat, rumah sakit, ambulans bahkan pembentukan rumah sakit lapangan. Karena jika benar terjadi pandemi maka jumlah kasus tak akan tertampung  di seluruh tempat tidur yang tersedia. Upaya penyuluhan masyarakat di Indonesia nampaknya masih kurang terbukti dengan tingginya resistensi masyarakat untuk memeriksakan unggas atau diri mereka. Masyarakat yang belum paham tentu sulit diharapkan dapat mengamalkan perilaku yang menguntungkan bagi kesehatan mereka. Di tengah maraknya pembicaraan tentang vaksin dan obat flu burung tamiflu sebenarnya tugas kita yang utama adalah melatih masyarakat cara berhubungan dengan ternak yang sehat sehingga penularan penyakit dikurangi. Cara tersebut memang tidak mudah diterapkan  karena eratnya hubungan antara unggas dan manusia di pedesaan kita, namun kebiasaan-kebiasaan yang memudahkan penularan dapat dihilangkan tanpa membangun sarana yang ideal. Media massa dapat membantu perubahan perilaku masyarakat ini  dengan merubah fokus pemberitaan yang sifatnya klinis ( agaknya sudah jenuh ) ke  kesehatan masyarakat . 

Demam Berdarah  

Setiap tahun Demam Berdarah melanda negeri kita. Sekitar 600-700 orang kebanyakan anak-anak meninggal dunia karena penyakit ini. Karena berlangsung setiap tahun masyarakat telah menganggapnya sebagai hal biasa. Demam Berdarah  menjadi tidak biasa jika keluarga kita yang jatuh sakit. Masyarakat biasanya menyalahkan Puskesmas yang tak kunjung melakukan pengasapan atau daya tampung rumah sakit yang terbatas. Meski pemerintah (misalnya Pemda DKI) telah menyediakan dana milyaran rupiah namun korban terus berjatuhan. Apakah mungkin kita memutus siklus tahunan ini? Jawabannya adalah mungkin yang telah dibuktikan oleh negara berkembang seperti kita juga yaitu Kuba. Kenapa Kuba berhasil menanggulangi Demam Berdarah sehingga sejak tahun 2002 negara ini tidak ada lagi laporan kasus Demam Berdarah ? Apakah pakar kesehatannya lebih hebat daripada Indonesia ? Pakar kesehatan Indonesia juga hebat termasuk dalam pemahaman Demam Berdarah. Bedanya adalah Kuba berhasil mengajak masyarakatnya memberantas Demam Berdarah. Sedangkan di Indonesia masyarakat menunggu agar pemerintah  memberantas Demam Berdarah. Masyarakat tidak berbuat.Peran murid Sekolah Lanjutan Pertama dalam pemberantasan Demam Berdarah di Kuba cukup menonjol. Pelajaran biologi yang menyangkut siklus hidup nyamuk diperkaya dengan praktikum mencari jentik di pemukiman sekitar sekolah setiap hari Sabtu selama satu jam. Praktikum ini dilakukan secara terus menerus. Jika murid berhasil menemukan jentik atau genangan air yang memungkinkan hidupnya jentik nyamuk maka guru pembimbing akan mengkonfirmasi sekaligus melakukan penyuluhan pada penghuni rumah agar genangan air seperti itu jangan sampai ada lagi di sekitar rumah karena dapat membantu penularan Demam Berdarah yang dapat membunuh anggota keluarganya. Gerakan yang amat sederhana ini dibantu oleh organisasi perempuan serta lembaga swadaya masyarakat lain ternyata berhasil meredam penularan Demam Berdarah. Sekarang pengamatan Demam Berdarah tetap dilakukan di Kuba tapi yang dilaporkan bukan lagi korban yang sakit atau meninggal (seperti di Indonesia) namun kepadatan  jentik nyamuk di berbagai propinsi. Mungkinkah kita meniru Kuba ? Bukanlah penduduk Indonesia mencapai 220 juta sedangkan Kuba hanya 11,2 juta ?   Jika program ini terlalu besar untuk jumlah penduduk 220 juta maka dapat di mulai di Jakarta (12 juta) atau propinsi lain yang penduduknya tidak terlalu banyak. Namun  persoalan sebenarnya bukanlah pada jumlah penduduk tapi pada keberhasilan kita menggerakkan masyarakat untuk menanggulangi Demam Berdarah. Upaya penanggulangan Demam Berdarah di Indonesia belum berhasil melibatkan masyarakat secara luas sehingga masyarakat tidak berbuat dan hanya menunggu upaya pemerintah. 

Sampah  

Sampah bukanlah penyakit menular meski dapat menjadi sumber penularan penyakit. Berbagai kota besar di Indonesia sudah mulai menghadapi persoalan sampah. Tempat pembuangan sampah semakin kurang. Padahal desa Banjarsari di Jakarta Selatan dan desa desa lain yang mampu mengelola sampah sendiri menunjukkan bahwa sampah bukan hanya dapat dikelola tapi juga dapat  menghasilkan uang. Mengapa desa-desa lain tak dapat diajak mengelola sampah seperti desa tadi ? Siapa yang harus menggerakkan?. Masyarakat diminta mengelola sampah pada tingkat rumah tangga terlebih dahulu barulah sisanya di kelola bersama atau oleh pemerintah. Menggerakkan masyarakat memang bukanlah pekerjaan mudah, perlu contoh nyata dan pembinaan berkesinambungan. Kita memerlukan pemimpin akar rumput yang bersedia menggerakkan masyarakat mencapai keadaan yang lebih baik. 

Lemahnya ketahanan masyarakat pada tingkat kampung dan desa yang tergambar dari maraknya penggunaan narkoba, alkohol, kebisaan berjudi, lingkungan hidup yang tak sehat  menunjukkan bahwa desa dan kampung kita mudah tergoda oleh berbagai perilaku yang tak menguntungkan bagi kesehatan atau kesejahteraan mereka. Mungkinkah kita meningkatkan kembali ketahanan desa atau kampung kita? Jika kelompok kecil masyarakat terlatih untuk melakukan perbuatan yang menguntungkan bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka maka mereka akan mudah diajak bertanggung jawab terhadap berbagai penyakit seperti flu burung, demam berdarah atau masalah sosial lainnya. Apakah konsep desa siaga akan menjawab kebutuhan ini ? Patut kita renungkan yang dibutuhkan masyarakat adalah tindakan nyata bukan hanya sekedar wacana. Biaya untuk tidak berbuat ( tidak cukup berbuat) amatlah tinggi.  

Samsuridjal Djauzi Pengajar pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.           

2 Responses to “Ongkos Tak Berbuat”

  1. hana Says:

    apakah demam berdarah menular antar manusia ,dan bagaimana cara penularanya?terimakasih.

  2. samsuridjal Says:

    hana,

    Demam berdarah menular dari pasien ke orang lain melalui nyamuk Aedes. Nyamuk ini berkembang biak di air bersih yang tergenang. Jadi janganlah membiarkan air tergenang di rumah Anda seperti di bak mandi (harus dikuras seminggu sekali), vas kembang, akuarium, kaleng bekas yang tergenang air. Semua punya potensi jadi sarang jentik nyamuk. Nah kalau ada tetangga yang kena Demam Berdarah dengan adanya nyamuk yang berkeliaran anggota keluarga Anda berisiko tertular. jadi jangan lupa bersihkan air tergenang di rumah dan lingkungan Anda

    Samsuridjal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: