Mengembangkan Potensi Perempuan

Kampus “universitas” Empower tidak seluas kampus universitas Chulalongkorn, Siriraj, Mahidol atau universitas resmi lainnya di Thailand. Kampus universitas Empower terletak di lantai III sebuah gedung di Patpong, daerah yang terkenal dengan industri seks di Bangkok. Di daerah ini terdapat puluhan  bar, panti pijat, klub malam yang mempekerjakan perempuan muda. Mereka mulai bekerja biasanya setelah matahari tenggelam sampai larut malam. Siang hari sebagian mereka menjadi ”mahasiswa” universitas Empower. Ketika penulis dan teman-teman berkunjung ke yayasan Empower sore hari bulan Desember 2006 sebagian ruangan masih dipakai untuk kegiatan kuliah. Kami harus menunggu sebentar untuk berbincang dengan Chantawipa Apisuk, suaminya, serta pengurus yayasan Empower lainnya. Penulis mengenal Cahantawipa Apisuk, perempuan enerjik yang akrab dipanggil Noi sejak tahun 1990. Waktu itu Noi datang ke Indonesia untuk melatih Lembaga Swadaya Masyarakat di Indonesia yang bergerak dalam bidang penanggulangan AIDS. Yayasan Pelita Ilmu, sebagai yayasan yang baru berdiri,  banyak belajar dari Noi.  Yayasan Empower telah 21 tahun mendampingi perempuan yang bekerja di industri seks di berbagai kota di Thailand. Mereka mempunyai kegiatan di tujuh lokasi di Thailand dan setiap tahun menerima sekitar 30.000 perempuan. Empower percaya bahwa potensi perempuan dapat dikembangkan, karena itulah misi utama Empower adalah mengembangkan potensi tersebut. Noi lebih menekankan pendekatannya kepada perempuan bukan pada pekerja seks.    

 

Tekanan Kemiskinan  

Universitas Mahidol pernah menerbitkan buku mengenai bagaimana proses gadis di pedesaan Thailand menjadi pekerja seks di kota besar. Buku tersebut ditulis oleh seorang pakar antropologi sosial. Para tengkulak dari kota besar menawarkan kredit barang-barang konsumtif kepada petani yang tinggal di propinsi yang kurang subur di utara Thailand. Para petani tergiur  untuk memiliki televisi, lemari es, motor serta barang konsumtif lainnya. Namun penghasilan mereka tak mencukupi untuk membayar kredit barang konsumtif tersebut. Dalam budaya Thailand berhutang merupakan kehinaan dan bagaimanapun kesulitan penghutang, hutang harus dilunasi. Karena itu banyak petani yang membayar hutang mereka ke kreditor dengan cara menyerahkan  anak gadis mereka. Anak gadis yang masih bersekolah di SMP atau di SMU diberhentikan dan diserahkan kepada kreditor. Sudah tentu anak gadis tersebut tidak ingin meninggalkan sekolah mereka, mereka menangis, meronta  dan berontak. Namun pada akhirnya mereka harus mematuhi keinginan orang tua mereka. Dengan diantar oleh orang tua, mereka menuju kota besar. Tinggal bersama mucikari dan memulai kehidupan baru sebagai pekerja seks. Dalam bahasa Thailand mereka menyebut pekerjaan mereka sebagai “tarmngaan” yang berarti bekerja dalam pengertian  pekerjaan yang mulia. Mereka bekerja sebagai pekerja seks untuk menyelamatkan muka orang tua mereka.Lingkungan pekerjaan baru menyebabkan gadis desa mempunyai uang banyak, rentan tertular penyakit menular dan mudah ditipu lelaki hidung belang yang berpura-pura mencintai mereka. Banyak perempuan yang merasa menemukan kekasih padahal laki-laki tersebut hanya ingin menguras uang gadis desa tersebut.Empower menyadarkan hak mereka sebagai perempuan. Kuliah di Empower lebih menekankan cara hidup di kota besar. Mereka diajarkan untuk mengambil keputusan yang baik untuk dirinya, menyimpan uang di bank, bahasa Inggris dan di dorong untuk terus belajar. Mereka memerlukan ketrampilan bahasa Inggris karena sebagian besar langganan mereka adalah turis asing. Di kampus Empower juga dilaksanakan pendidikan informal semacam kejar paket B dan paket C. Sebagian lulusan paket C melanjutkan kuliah di Universitas yang resmi. Mengapa Yayasan Empower menyebut kegiatan pelatihan mereka Universitas ? Ya , disini adalah kampus kehidupan, kata Noi. Kami tak mengajarkan banyak teori namun lebih menekankan ketrampilan yang diperlukan dalam kehidupan. Di sini yang diutamakan bukan ijazah tapi ketrampilan untuk berhasil mengarungi gelombang kehidupan. Namun demikian  Empower juga memberi kesempatan bagi mahasiswanya untuk mengikuti pendidikan formal. Sudah cukup banyak perempuan yang didampingi Empower lulus sarjana ekonomi, sastra, hukum, dan lain-lain. Juga tidak sedikit yang sudah menjadi pengusaha meski tak menamatkan pendidikan universitas. Mereka tidak saja berhasil keluar dari pekerjaan sebagai pekerja seks tapi berhasil menjadi warganegara yang produktif. Keberhasilan Empower dapat dipahami karena perempuan yang didampingi pada dasarnya adalah perempuan muda yang masih ingin bersekolah dan ingin mempunyai masa depan yang lebih baik.Tekanan kemiskinan keluargalah yang  menjadikan mereka pekerja seks.  Empower hanya mengembangkan potensi mereka, membuka kembali jalan untuk  meraih cita-cita mereka. 

 

Layanan Lintas Batas 

Pendampingan Empower tidak hanya dilakukan terhadap perempuan yang berasal dari pedesaan  Thailand. Empower juga mendampingi para perempuan di perbatasan Thailand yang berasal dari Myanmar, Laos dan Kamboja. Keadaan perempuan di perbatasan ini lebih menyedihkan. Mereka sulit mengakses layanan publik seperti layanan kesehatan karena tidak mempunyai kartu penduduk. Mereka tidak pandai berbahasa Thailand.  Tersentuh oleh kepedihan yang dirasakan para perempuan di pebatasan ini suami Chantawipa, Apisuk, menciptakan personifikasi perempuan muda yang diwujudkan dalam bentuk patung. Patung ini dibawa berkeliling dan dijadikan maskot dalam teater jalanan. Teater ini berkeliling di kota besar Thailand dan menyuarakan kepedihan dan harapan perempuan muda di perbatasan yang terabaikan itu. Apisuk memang sehari-hari merupakan seniman perupa yang terkenal tidak hanya di Thailand namun juga pada tingkat global. Apisuk membantu meningkatkan harga diri perempuan muda dengan teater. Mereka diajak bermain teater dan mengaktualisasikan diri mereka dalam berbagai peran. Menurut Apisuk tidaklah sulit bagi para perempuan muda tersebut bermain sebagai pekerja seks, pelanggan maupun polisi karena mereka mengenal karakter-karakter tersebut dengan akrab.  Ibu Meiwita (Yayasan Ford Indonesia) yang ikut dalam rombongan kami  menyebut kegiatan Empower sebagai suatu kegiatan yang unik. Empower tidak melakukan pendekatan melalui belas kasihan tapi percaya bahwa perempuan mempunyai potensi untuk berkembang dan mandiri. Empower berusaha untuk mengembangkan potensi tersebut terlepas masa lalu dan keadaan sekarang perempuan tersebut sebagai pekerja seks. Label pekerja seks ternyata tidak perlu mengikat kaki  mereka untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik. Mereka dapat bangkit dan meraih cita-cita mereka sewaktu kecil. Pengalaman Empower dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita. 

(Samsuridjal Djauzi, Yayasan Pelita Ilmu)    

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: