Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Compulsory Licensing Untuk Obat ARV Lini II

February 4, 2009

Compulsory Licensing untuk obat ARV lini II

Compulsory licensing merupakan salah satu cara untuk menyediakan obat yang terjangkau bagi masyarakat. Indonesia pernah mengadakan obat ARV lini pertama dengan cara compulsory licensing melalui keputusan presiden. Tahun 2004 untuk Lamivudin dan Nevirapin (ditandatangi oleh Presiden Megawati) dan tahun 2007 untuk Efavirenz (ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Pertimbangan untuk mengadakan compulsory licensing waktu itu adalah obat tersebut dibutuhkan oleh masyarakat luas, harga antara obat paten dan obat generik jauh berbeda dan pengadaan obat generiknya mampu laksana (baik produksi dalam negeri maupun impor). Sampai tahun 2008 akhir obat Efavirenz meski telah keluar compulsory licensingnya namun obat tersebut belum diproduksi secara lokal karena pengadaan obat melalui produksi lokal tetap harus memenuhi syarat dari badan POM baik prosedur administratif maupun kualitas obatnya.

Untuk obat lini dua sekarang ini adalah Tenofovir, ddI dan Lipo/ritonavir. Mengingat kemudahaan pengadaan dan harga maka tim Pedoman Obat ARV mengusulkan agar regimen untuk lini dua dalah Tenovofir. Emtricitabin dan Lopi/ritonavir. Ketiga obat ini merupakan obat paten sehingga timbul pertanyaan apakah ketiga obat tersebut perlu juga dilakukan compulsory licensing?. Dibandingkan dengan tahun 2004 terjadi perubahan kebijakan dalam harga obat paten ARV. Dewasa ini beberapa perusahaan obat paten menetapkan harga obat ARV yang berbeda sesuai dengan kemampuan negara yang menggunakan obat. Harga obat ARV Tenofovir, Emtricitabin dan Lipo/rito jauh berbeda untuk harga Indonesia dan harga di negara maju. Kita mendapat harga yang jauh lebih murah. Dewasa ini penggunaan obat ARV lini pertama sekitar 10-12.000 orang. Sedangkan lini kedua masih sekitar 2 % dari lini pertama meski di masa depan porsinya akan semakin meningkat namun jumlahnya masih relatif kecil. Dengan mempertimbangkan faktor kebutuhan yang masih kecil dan harga yang sudah murah maka menurut pendapat saya urgensi untuk melakukan compulsory licencing bagi obat ARV lini 2 sekarang ini tidak ada. Masalah yang lebih urgen yang harus kita selesaikan adalah sistem pengadaan obat ARV yang menjamin ketersediaan obat secara berkesinambungan. Menteri kesehatan telah menjamin obat ARV lini pertama aman sampai bulan Maret 2009. Namun, bulan Maret 2009 sudah hampir didepan mata. Mengingat proses pengadaan obat memerlukan waktu yang cukup lama maka kita berharap teman-teman yang terkait dengan pengadaan obat ARV dapat berusaha agar kelangkaan obat seperti bulan Oktober 2008 tidak terulang kembali.

Samsuridjal Djauzi

Dr. Nasrin Moazami’s Strugle

November 13, 2007

During my short visit to Tehran, I take a chance to observe HIV/AIDS and Biotech activities there. I am definitely keen want to witness the daily life of Tehran society. Prof Hoesein Nader Manesh, a lecturer at the Faculty of Basic Science, University of Modares, suggested me to visit The Iran Research for Science and Technology. I undoubtedly accepted his suggestion happily. Prof Manesh then called the Institute Director and it turned out that I can visit the institute on the next day. Since the institute is located in Kharaj City, about 60 km away from Tehran, one of the institute staff picked me up at the hotel. The staff are so nice. But one thing made me surprised when I entered the room of the institute director. It turned out that Prof .Nasrin Moazami is a woman. She looks like Mrs Meiwita. She is so frinedly and welcomed me at her room, which was neat and full of flowers.

I found out later on that Prof. Nasrin Moazami is one of the role models among researchers in Iran. She is the pioneer of the development in the research of parasitology and Microbiology. Her research in 1986 found the bacteria of Bacillus thuringeinsis that can kill the larvae of Anopheles, Aedes or Culex mosquitoes. A great finding of this bacteria is that it has potential to eradicate diseases that are transmitted by mosquitoes such as malaria, Dengue, Filariasis and many others.

However, this finding cannot be immediately implemented. She had to wait for so long to build the pilot plant to produce more bacteria and also to re-examine the advantages of the resulted products. Fortunately the UNDP and Unesco were interested and provided financial supports to build the pilot plant in 1990. In this pilot plant she conducted preparation, fermentation, drying until the formation of the product that later on was called bioflash. The products that are produced by this pilot plant turned out to be good. This fact encouraged Prof Moazami to produce Bioflash in a big scale. But her dream cannot materialize soon. She must wait for so long (around 10 years) and it was until 5 years ago that an Iranian private company was interested in building the plant and producing bioflash. Through her hard work finally Prof. Moazami can materialize her dream; two years ago the plant started its production with the capacity of 100 metric ton per year. Around 20 % of the products are utilized by Iranian government while the rest is ready to be exported.

When I visited the institute, there were also delegations of Thailand that are interested in purchasing this bioflash product. Meanwhile, Malaysia has started earlier: around a year ago it forged cooperation with Iran. This product has undergone trial tests in India, Sudan, Senegal and Uganda. It seems that we in Indonesia need to consider this biolarvacide product in order to eradicate diseases transmitted by mosquitoes in our country. Before leaving for Tehran, I had a chance to examine a Phd candidate in the University of Indonesia; his research shows that around 18% of pregnant mothers in Bekasi are infected by Filaria. Not to mention the problem of dengue fever and malaria that are still the health problems in our country.

I asked for a permission to visit the plant and it turned out that they allowed me to. It seems that there are some easy access for Indonesians in Iran. The plant is quite big with modern equipment that similar with the ones I saw in a plant that produced Hepatitis B vaccine in Havana. In this bioflash plant, there are large fermentors with the capacity of 12,000. There are 35 staff in the plant, who are graduated from universities in Iran. They are still young of between 28-35 years. The Director, Mohammad Asgarina is also still young.

A researcher of course will be happy if their findings can be beneficial for the society. I admire the struggle of Prof. Moazami. She is successful in making her research become something useful in eradicating diseases that threaten half of the worl population. Although to materialize her dream she must fight and take a long, winded, and tiring path.

Furthermore, the institute of bioflash also has many other projects such as biologic fertilizer that is expected to be environmentally-friendly. This Institute also cooperates with European company in developing biomarine research on drugs invention and nutritional substances. Also with Singapore for developing alternative energy.

In Indonesia, I believe that similar researches have been conducted. But not many are ended with resulted products. The results usually come in the forms of research reports, theses or dissertations. If lucky enough, they can be in the form of publications. The struggle of Prof. Moazami can become an example that great endeavor and patience will eventually materialize the researchers’ dreams in creating something useful for the society.

Samsuridjal

Tehran, 30 Oct 2007

A Feature from Tehran: Book Store

November 13, 2007

Kerjasama Indonesia dan Kuba dalam Bidang Kesehatan

January 25, 2007

Ketika bangsa Indonesia menghadapi musibah bencana alam tim kesehatan Kuba mengirimkan tenaga kesehatan. Pada waktu bencana Tsunami 25 orang dokter spesialis Kuba melayani masyarakat di Aceh selama satu bulan. Sedangkan pada waktu bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah rombongan kesehatan yang datang jauh lebih banyak. Seratus tiga puluh lima tenaga kesehatan melayani masyarakat di Klaten melalui dua rumah sakit lapangan selama tiga bulan. Jumlah pasien berobat jalan sekitar 100.000 orang sedangkan yang mendapat layanan operasi sekitar 2000 orang. Pada waktu berkunjung ke Kuba, Presiden Susilo Bambang Yudoyono  menyampaikan ungkapan terima kasih pemerintah dan bangsa Indonesia kepada para relawan kesehatan Kuba dengan menyematkan tanda penghargaan. Pada bulan Desember rombongan Menteri Kesehatan Republik Indonesia akan berkunjung ke Kuba. Kerjasama Indonesia dan Kuba dapat diperluas tidak hanya dalam penanggulangan bencana namun pada berbagai upaya kesehatan lain  untuk meningkatkan kesejahteraan kedua negara. 

 

Layanan Dokter Keluarga di Kuba  

Dalam tiga kali kunjungan ke Kuba penulis sempat menyaksikan layanan dokter keluarga yang amat berperan dalam menunjang peningkatan taraf kesehatan masyarakat Kuba. Di daerah pemukiman (kampung atau rumah susun) tersedia layanan kesehatan keluarga yang didukung oleh dokter dan perawat. Dokter dan perawat tinggal di dekat poliklinik keluarga dan bertugas melakukan penyuluhan kesehatan, pencegahan penyakit serta pemeliharaan lingkungan. Penyediaan air bersih dan listrik amat membantu penyehatan lingkungan. Dokter keluarga bahkan berkunjung ke rumah atau kamar rumah susun untuk menyaksikan kebersihan lingkungan. Meski rumah susun di Kuba hampir serupa dengan rumah susun di Jakarta namun kebersihannya terjaga baik. Layanan kesehatan keluarga ini dapat dinikmati masyarakat secara gratis. Bahkan jenis imunisasi dan cakupan imunisasi bagi anak Kuba termasuk yang terbaik di antara negara di Amerika Latin. Vaksin untuk imunisasi di buat sendiri di Kuba oleh Institue Finlay. Institut ini selain memproduksi vaksin untuk masyarakat Kuba juga mengekspor produknya. Vaksin Hepatitis B yang digunakan di layanan kesehatan pemerintah di Malaysia misalnya berasal dari Kuba. Memang benar taraf pendidikan masyarakat Kuba yang tinggi amat mendukung kebiasaan hidup sehat. Puskesmas (Health Center)  di Kuba merupakan rujukan layanan klinik dokter keluarga. Layanannya  jauh lebih lengkap dari Puskesmas di Indonesia. Puskesmas di Kuba selain menyediakan layanan rawat jalan yang juga didukung oleh dokter spesialis,. juga menyediakan layanan gawat darurat dan rehabilitasi medis. Dengan demikian pada keadaan gawat mereka yang sakit mendapat pertolongan dekat rumahnya. Jika keadaan menghendaki barulah penderita di rujuk ke rumah sakit. Jadi penderita yang datang ke rumah sakit pada umumnya merupakan penderita yang di rujuk. Begitu pula dengan layanan rehabilitasi medik amat lengkap di Puskesmas, kebanyakan penderita yang pernah mengalami strok misalnya datang berjalan kaki atau dengan kursi roda ke Puskesmas. Mereka tak memerlukan transportasi karena layanan tak jauh dari rumah mereka. Lagipula memang masalah transportasi umum di Kuba menjadi masalah karena kendaraan pribadi amatlah jarang yang tersedia pada umumnya kendaraan umum. Di samping kebijakan Kuba yang amat berorientasi pada kesehatan masyarakat, layanan dokter keluarga merupakan salah satu layanan yang menghasilkan indikator kesehatan di Kuba menjadi amat baik. Angka kematian bayi hanya 5,8/1000 (Indonesia masih 30/1000), angka kematian ibu 31/100.000 (Indonesia masih 300/100.000). Angka kematian bayi di Kuba tidak hanya lebih baik dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang tetapi juga lebih baik dari negara yang sudah maju sekalipun (misalnya Amerika Serikat). Dalam membangun layanan kesehatan masyarakat dan dokter keluarga di Indonesia kita dapat bekerjasama dengan Kuba. 

 

Layanan Rumah Sakit 

Rumah sakit di Kuba baru saja mendapat dana segar dari pemerintahnya. Pemerintah Kuba  melengkapi perlengkapan alat kedokteran dan bangunan rumah sakit sehingga dapat menarik pasien dari luar Kuba. Program wisata kesehatan sudah mulai lama di promosikan dan jumlah orang asing yang berwisata dan berobat ke Kuba semakin meningkat. Mereka datang tidak hanya dari kawasan Amerika Latin namun juga dari Eropa (terutama Eropa Timur) dan Afrika. Jumlah pasien yang cukup besar adalah dari Veneuzela karena Kuba dan negera tersebut mempunyai perjanjian kerjasama pertukaran minyak dengan layanan kesehatan. Di Kuba terdapat rumah sakit internasional seperti rumah sakit ortopedi bekerjasama dengan Perancis, dan Rumah Sakit Hermano Alamaijeras yang letaknya amat trategis menghadap teluk Kuba. Salah satu lantai ini disediakan untuk perawatan orang asing dan dari rumah sakit kita dapat menikmati pemandangan laut biru yang terhampar di teluk Kuba.Sebagian rumah sakit di Kuba digunakan untuk pendidikan mahasiswa kedokteran serta pendidikan calon dokter spesialis. Pendidikan calon spesialis di Kuba diminati oleh berbagai negara. Mutunya baik dan kesempatan untuk melakukan tindakan medis terbuka luas. Masyarakat Kuba yang memerlukan tindakan operasi misalnya tak perlu membayar. Ini mengakibatkan jam terbang dokter Kuba tinggi. Berbagai teknik medis yang dilakukan di negara maju sudah  dilakukan di rumah sakit Kuba misalnya operasi dengan teknik endoskopi. Kerjasama dengan Kuba dalam bidang pendidikan kedokteran ini juga dapat dikembangkan. Kita terbiasa mengirim calon dokter spesialis ke negara maju dan biasanya menjadi pengamat dalam tindakan medis karena peraturan negara maju tak mengizinkan siswa asing menangani pasien di negara mereka. Kini salah satu alternatif adalah Kuba meski biaya transportasi akan mahal namun biaya hidup amatlah murah. Lagi pula calon spesialis atau konsultan itu dapat lebih aktif melakukan tindakan medis pada situasi yang lebih sama dengan di Indonesia. 

 

Kerajasama Farmasi 

Kerjasama dalam bidang ini telah berjalan namun dapat ditingkatkan. Perusahaan farmasi yang telah dan sedang mengadakan kerjasama antara lain PT. Kimia Farma, PT. Kalbe Farma, PT. Mahakam Farma. PT. Kalbe Farma bersama dengan CIM (Center for Immunology Molecular) di Havana mengadakan pengembangan bersama obat kanker yang diharapkan pada tahun 2008 sudah dapat dipasarkan. Sedangkan PT. Kimia Farma dan PT. Mahakam Farma sedang meregistrasikan beberapa obat produk Kuba di Indonesia  yang dalam jangka panjang diharapkan juga akan diproduksi di Indonesia. Salah satu bidang kerjasama yang potensial adalah dalam bidang pengembangan vaksin karena baik Indonesia maupun Kuba merupakan negara produsen vaksin yang produknya telah digunakan oleh UNICEF. Prof. Vicente dari Universitas Havana baru saja menemukan cara membuat vaksin Haemophylus influenza B dengan teknik sintetik oligosakarida. Pada umumnya vaksin ini dibuat melalui pembuatan  antigen yang berasal dari bakteri namun dia dan juga beberapa pusat penelitian di negara maju seperti Belanda, Jerman dan lain-lain berhasil membuat melalui cara sintetik kimia. Namun penelitian di luar Kuba dihentikan karena dengan teknik ini produksi vaksin menjadi lebih kompleks dan mahal. Namun Prof. Vicente tidak mennghentikan penelitiannya, teknik ini terus di modifikasi dan setelah 8 tahun dia berhasil memproduksi vaksin dengan teknik ini lebih sederhana dan lebih murah. Penelitiannya di publikasi di majalah yang mempunyai reputasi internasional namun yang lebih penting dia behasil menurunkan harga vaksin dengan cara ini yang amat relevan bagi negera yang sedang berkembang. Kerjasama pengembangan vaksin antara Indonesia dan Kuba amat potensial bagi kemajuan kedua negara.Pengembangan ilmu kedokteran dasar secara terpadu  di Kuba juga berhasil memajukan  industri biotek di bidang  farmasi sehingga produk biotek tersebut diekspor ke luar negeri. Bahkan Kuba berhasil memperoleh devisa yang lumayan melalui ekspor produk bioteknya. Menurut majalah Nature Biotech, keberhasilan Kuba dalam pengembangan industri biotek disebabkan sinergi yang amat baik antara universitas(lembaga penelitian) dengan industri farmasi dan pemerintah. Kerjasama ini juga sudah lama dicanangkan di Indonesia namun belum  berhasil diwujudkan dalam bentuk konkret.  Kerjasama Indonesia Kuba telah terjalin sejak lama. Bung Karno mendapat tempat yang istimewa dalam hati masyarakat Kuba. Kerjasama ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Kita dapat mengambil manfaat dari pengalaman dan teknologi yang dikembangkan Kuba. Sebaliknya kerjasama dengan Indonesia akan membuka pasar ASEAN bagi produk Kuba. Namun yang lebih dalam dari itu kerjasama antar negara non blok ini tidak hanya untuk kepentingan ekonomi tetapi juga disertai semangat untuk  membangun kemampuan masing-masing.  

 

(Samsuridjal Djauzi, Staf Pengajar Universitas Indonesia)   

About Me (taken from Kompas)

January 19, 2007

Welcome to my personal website diary. Right now is under construction. Please visit again in few days. You may send me email to: samsuridjal [at] yahoo [dot] com. Thank you.

Here is article taken from Kompas Media 4 Dec 2005 about me.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/04/persona/2264251.htm

Samsuridjal Djauzi

Agnes Aristiarini

”Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin.”

Surat An-Nisa : 36 yang dikutip dalam buku pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) setahun lalu sungguh mewarnai hidup Samsuridjal sehari-hari.

Ditambah dengan sumpah kedokteran bahwa setiap dokter harus menolong pasien tanpa membeda-bedakan manusia dan penyakitnya, ia terima dengan tangan terbuka mereka yang terinfeksi HIV/AIDS, pengguna narkoba yang sudah tidak ada harapan sama sekali, anak jalanan, juga pekerja seks.

Ibunya, Djubaedah, yang amat peduli pada kesulitan orang lain sudah mencontohkan bagaimana menerapkan ayat itu dalam kehidupan sehari-hari.

”Ibu banyak memengaruhi saya, terutama menumbuhkan empati dalam kehidupan saya sebagai dokter,” kata Samsuridjal suatu siang di ruang kerjanya di Subbagian Alergi Imunologi Klinik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Pernah suatu ketika, ada remaja Kebun Kacang, Jakarta Pusat, yang tidak bisa berjalan karena kakinya bengkak besar. Mendengar Puskesmas Kampung Bali memberi pengobatan ketergantungan narkoba cuma-cuma, ia datang dipapah ibunya. Kondisinya yang parah membuat ia harus dirujuk ke rumah sakit.

Pemuda itu pengangguran, cuma lulus SMP. Ia menjadi joki—calo jual beli narkoba—sekaligus pakai sendiri. Ibunya berjualan lontong sayur di pagi hari, tapi modalnya lebih sering dihabiskan oleh si anak.

Ekstremnya, tidak ditolong pun tidak apa-apa. Namun, Samsuridjal tetap mengulurkan tangan, membantu biaya perawatan rumah sakit dan keperluan obatnya. Ternyata levernya bermasalah terkena hepatitis C berat, selain tentu saja terinfeksi HIV/AIDS.

Pemuda itu masih hidup sampai sekarang, namun tetap saja bermasalah. Sempat baik dan menjadi penyuluh HIV/AIDS, terakhir ia masuk penjara karena tertangkap basah menggunakan narkoba.

Sedangkan ayahnya, Djauzi, meski sering bepergian berdagang tekstil untuk menambah penghasilannya sebagai guru, memberi teladan untuk hidup jujur, sederhana, menghormati hak orang lain, dan bekerja keras. ”Nilai-nilai yang mereka ajarkan menjadi modal besar dalam menjalani pendidikan dan karier saya,” tambahnya.

Semua yang mengenalnya memang sepakat bahwa Samsuridjal amatlah low profile meski banyak karyanya yang bergaung nasional. Ketika masih menjabat Direktur RS Kanker Dharmais, misalnya, mobilnya cukup sedan Timor.

Ketika sudah menjadi doktor dan bahkan kemudian guru besar, ia meminta atribusinya tetap dokter saja di rubrik kesehatan Kompas Minggu. ”Di situ saya jadi dokter keluarga,” begitu alasannya.

Padahal, bersama sahabatnya, Prof Dr dr Zubairi Djoerban SpPD (KHOM), ia mendirikan Yayasan Pelita Ilmu (YPI) yang mengenalkan pencegahan HIV/AIDS dan memberi dukungan pada pasien dan keluargnya. Mereka pula yang aktif di Kelompok Studi Khusus AIDS (Pokdisus) FKUI/RSCM, mengembangkan layanan HIV/AIDS di berbagai rumah sakit, merintis obat murah untuk pasien yang akhirnya berkembang menjadi obat gratis dari pemerintah, mengembangkan pengobatan narkoba berbasis masyarakat di Kampung Bali, dan masih banyak lagi.

Kedua anaknya yang menjadi dokter—dan menikah dengan dokter pula—pilihannya juga terinspirasi sang ayah yang tidak pernah diskriminatif, yang selalu siap dipanggil pasien bahkan pada pukul 03.00 dini hari di Samarinda, tempat keluarga Samsuridjal tinggal selama lima tahun (1976-1981).

Merintis pencegahan

Mengapa tertarik AIDS?

Karena bidang saya imunologi, jadi terkait dengan kekebalan tubuh. Pada pertengahan 1980-an, ketika persoalan HIV/AIDS mulai muncul di dunia, Pak Zubairi baru pulang dari Perancis. Kami ngobrol-ngobrol. Selain dia belajar banyak tentang limfosit di sana, di berbagai kawasan sudah muncul kasus HIV/AIDS, termasuk Thailand yang sudah tergolong berat.

Kami berpikir, mumpung di Indonesia belum terjadi kenapa tidak diupayakan saja pencegahannya. Maka, mulailah kami penyuluhan di sekolah-sekolah. Waktu itu Sabtu belum libur, masih ke kantor setengah hari. Jadi, kami penyuluhan pulang dari kantor.

Saya masih ingat, Pak Zubairi punya mobil kijang untuk mengangkut overhead projector, layarnya, bahkan air minum kemasan dan camilan. Itu tahun 1986-87, persis di awal-awal HIV/AIDS muncul di Indonesia.

Sekolah bersedia?

Wah, tidak. Sekolah-sekolah yang ditawari umumnya menolak, karena mereka merasa sekolahnya sekolah baik-baik sehingga tidak perlu ceramah HIV/AIDS. Rupanya mereka mempersepsikan yang kena HIV adalah yang tidak baik-baik. Ya untungnya ada koneksi teman-teman kepala sekolah, guru, sehingga kami bisa masuk ke beberapa sekolah.

Penyuluhan makin sering setelah Yayasan Pelita Ilmu didirikan 4 Desember 1989, karena dengan adanya YPI ada tenaga-tenaga bantuan bukan dokter, termasuk istri Pak Zubairi yang alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Lalu data pengetahuan siswa sebelum dan sesudah penyuluhan yang dicatat dari total 100-an sekolah setelah 1-2 tahun berjalan, kami ajukan dalam pertemuan jaringan epidemiologi nasional. Data itu menunjukkan rendahnya pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dan pentingnya mengintervensi mereka.

Mulailah lembaga donor tertarik sehingga yang tadinya anggaran kue dan air minum kemasan dari kantong sendiri, sekarang ada yang membiayai.

Penyuluhan di sekolah berkembang tidak hanya di SMA, tetapi juga di SMP setelah kami tahu justru pemahaman masalah seksual diperlukan sejak SMP. Sebaliknya, kasus HIV/AIDS juga mulai berdatangan sehingga penyuluhan juga mencakup rumah sakit, tenaga kesehatan, sampai ke permukiman.

Bagaimana RSCM sendiri?

Itu juga pengalaman menarik. Operasi pertama pasien HIV/AIDS di rumah sakit ini perjuangannya tidak mudah. Masih ada yang ketakutan kalau berkontak atau dekat-dekat. Maka, terjadi lempar-lemparan antara ruang operasi depan dan belakang, mana yang bersedia digunakan. Lama tak ada tanggapan, akhirnya direktur RSCM memutuskan operasi di belakang, tempat yang biasa dipakai untuk operasi terencana.

Negosiasinya berat, saya bahkan sampai harus membeli bleaching—cairan pemutih baju—untuk mensterilkan ruangan pascaoperasi sampai ke plafon-plafonnya.

Akan tetapi, setelah pengalaman pertama itu, semua jadi punya keyakinan. ”O, cuma begitu.” Ini yang memperlancar operasi-operasi berikutnya, termasuk bedah caesar, hemoroid, dan sebagainya.

Sekarang hampir semua rumah sakit di Jakarta sudah merawat pasien HIV/AIDS dengan baik. Operasi mata, jantung, atau usus buntu pada mereka juga berjalan baik. Sepanjang universal precaution diterapkan, tak ada yang perlu ditakutkan.

Kalau perkembangan YPI?

YPI sekarang punya 10 kegiatan di 10 lokasi, dengan 80 anggota staf yang dibayar dan puluhan relawan. Kegiatan yang masih jalan terus, misalnya, program AIDS di sekolah, anak jalanan, anak yang dilacurkan, dan sanggar sebagai rumah singgah untuk keluarga dan pasien HIV/AIDS belajar hidup bersama. Mereka bisa tinggal dua hari, makan dan tidur bersama. Barangkali ini yang pertama di Indonesia.

Yang lain adalah klinik remaja di Bukit Duri, klinik keluarga di Jatinegara, dan program harm reduction di Kampung Bali untuk pengguna narkoba suntik.

Kenapa Kampung Bali?

Saya tinggal di sana sampai lulus menjadi dokter. Anak-anak yang terkena narkoba adalah anak teman-teman saya.

Akan tetapi, ada yang membuat saya tersentuh. Saya pernah menolong remaja yang sudah tidak sadar di dalam gerobak, di pasar loak dekat situ. Pemuda itu dehidrasi berat, namun tertolong setelah diinfus. Mengaku umur 18, kemudian saya tahu ia baru 16. Setelah keluar masuk rumah sakit, akhirnya ia meninggal.

Ia empat bersaudara, dua kakaknya meninggal duluan karena narkoba. Belakangan, adiknya meninggal juga. Padahal, ayahnya cuma kuli tekstil di Tanah Abang. Bayangkan penderitaan keluarga sederhana ini, empat anaknya habis dengan penyebab yang sama.

Kampung Bali tidaklah amat istimewa dibandingkan dengan yang lain. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengakui, tidak ada kecamatan di Jakarta yang bebas narkoba. Mungkin lebih karena saya punya ikatan emosional di situ.

Narkoba dan AIDS

Saat ini peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia sebagian besar disumbang oleh pengguna narkoba suntik. Kalau Badan Narkotika Nasional (BNN) mengestimasi jumlah pengguna narkoba suntik 575.000 dan 60 persennya tertular HIV/AIDS, maka paling tidak ada 340.000 kasus. Ini baru dari kalangan itu saja, belum termasuk hubungan seksual yang tidak aman. Dengan demikian, angka perkiraan HIV/AIDS 90.000-130.000 kasus perlu dikoreksi lagi.

Berkat rintisan Pokdisus—yang tahun 2001 ke India untuk mendapatkan obat generik antiretroviral (ARV) murah, kemudian berkembang menjadi produksi obat sendiri oleh Indo Farma dan akhirnya disediakan pemerintah secara gratis—banyak pengidap HIV/AIDS bisa menjaga kesehatannya, meneruskan hidupnya dan tetap produktif.

”Harga obat generik yang semula Rp 380.000 per bulan lalu menjadi gratis, berarti sekali di Indonesia,” kata Samsuridjal.

Saat ini yang sudah tercakup obat murah Pokdisus sekitar 2.000 pasien, sedangkan di seluruh Indonesia 4.500-an.

Maka ketika Indonesia ikut program Organisasi Kesehatan Dunia 3 by 5, artinya pengobatan bisa mencapai target 3 juta orang tahun 2005, infrastrukturnya sudah tersedia. Salah satunya adalah pemeriksaan virus yang dibawa Pak Zubairi dari Perancis.

Tanpa pengalaman penyediaan obat generik murah, untuk mengembangkan pemeriksaan saja akan perlu waktu setahun lebih. Belum lagi melatih orang untuk mengerti tentang ARV, manfaat, cara pakai, maupun efek sampingnya. Jangan-jangan tahun ke depan baru persiapan.

Meski sekarang terasa menguntungkan, ketika memulai Samsuridjal dan Zubairi sering dianggap orang bergerak terlalu cepat. ”Namun, latar belakangnya adalah karena kami berhadapan langsung dengan pasien. Orang lain mungkin bisa bilang bikin perencanaan dulu, dinilai dulu, yang bisa berlangsung sampai enam bulan. Padahal, setiap keterlambatan ada dampaknya,” papar Samsuridjal.

Ada yang masih memprihatinkan dalam layanan pasien?

Layanan yang ada masih heterogen. Ada yang baru mulai, ada yang kasusnya banyak. Jadi, keterampilan belum merata.

Makanya kami menawarkan program magang. Satu tim yang ada dokter dan perawatnya, bersama-sama merawat pasien di RSCM atau di RS Kanker Dharmais. Biasanya setelah itu, kalau ada kasus sudah percaya diri.

Anda begitu sibuk. Apa masih ada waktu menikmati puisi?

Ha-ha-ha…. Ada, ada. Kalau mas Taufiq Ismail atau Rendra biasanya saya kejar. Juga kalau ada film bagus dan pergelaran sastra, saya usahakan hadir.

Musik, puisi, film, novel bisa mengasah kepekaan untuk berempati pada orang lain. Saya percaya, kalau hati kita diumpamakan ada senarnya, maka menikmati seni bisa memperhalus senar untuk bergetar sesuai penderitaan orang.