Archive for January, 2007

Peran universitas dalam penanggulangan AIDS

January 25, 2007

Di salah satu bangunan tua gedung Rumah Sakit Ciptomangunkusumo terdapat kelompok Studi Khusus AIDS FKUI/RSCM (Pokdi). Pokdi mempunyai sejarah panjang dan merupakan salah satu organisasi yang tanggap terhadap permasalahan AIDS di Indonesia. Media Aesculapius menemui Prof. Samsuridjal Djauzi, salah seorang pengurus Pokdi dan  dan berikut wawancara dengan beliau.  

 

Sejarah pendirian Pokdi 

Kelompok ini berdiri pada bulan Maret 1986, jadi sudah berumur 20 tahun lebih. Memang pada masa itu masih sedikit kepedulian terhadap masalah AIDS di Indonesia. Namun sekelompok staf pengajar FKUI yang mencermati masalah ini mengantisipasi AIDS akan menjadi masalah kesehatan di negeri kita seperti juga di Afrika dan Thailand. Apalagi pada akhir tahun 1985, Dr. Zubairi Djoerban menemukan kasus AIDS pertama di Jakarta. Kepedulian terhadap AIDS semakin meningkat. 

 

Apa yang dilakukan pada tahap permulaan ? 

Melakukan pengumpulan kepustakaan, membahas epidemiologi, cara penularan, perjalanan penyakit, infeksi oportunistik dsb. Memang pada tahap itu belum ada obat antiretroviral, sehingga AIDS dianggap sebagai penyakit yang mematikan. Kelompok menyadari pentingnya penyuluhan untuk mencegah penularan HIV lebih lanjut. Sehingga dilakukan penyuluhan baik untuk kalangan medis maupun awam. Selain itu berhasil diterbitkan buku tentang AIDS ynag merupakan buku pertama di Indonesia. Diantara editornya adalah Prof. Arjatmo Tjokronegoro. Selain itu Pokdi juga mempersiapkan sarana VCT dan diagnosis. Dr. Zubairi yang baru pulang dari Perancis mengembangkan pemeriksaan CD4 semula untuk pemantauan Leukemia namun juga kemudian dikembangkan untuk penunjang diagnosis AIDS. Sedangkan pemeriksaan anti HIV sudah dapat dilakukan di FKUI/RSCM tahun 1985 tak lama setelah HIV ditemukan. 

 

Perkembangan pasien  

Kasus amat sedikit pada permulaannya, mungkin sebulan hanya satu dua. Namun minat untuk mendapat pengalaman menatalaksana amat tinggi. Kasus yang ada dipelajari secara terpadu waktu itu dipimpin oleh Prof. A. Harryanto Reksodiputro. Karena anggota kelompok terdiri dari berbagai disiplin ilmu termasuk teman-teman dari preklinik maka pembahasan cukup mendalam. Kami juga menyediakan diri untuk menengok kasus AIDS di rumah sakit lain di Jakarta. Kasus-kasus tersebut dicatat dengan baik dan jumlahnya semakin lama semakin banyak. Kasus-kasus AIDS di rumah sakit swasta juga bertambah. Saya masih ingat menerima kasus AIDS di RS Infeksi Sulianti pada tahun 1992. Kasus ini pindahan dari rumah sakit Cinere dan malam hari sekitar setengah sebelas malam sehabis praktek saya berkesempatan memeriksanya di RS Sulianti. Pengalaman ini sekedar menggambarkan bagaimana antusiasnya kami mencari pengalaman menatalaksana AIDS. Sekarang Pokdi merupakan salah satu klnik yang ramai di rumah sakit Ciptomangunkusumo. Setiap hari Pokdi melayani 40-50 pasien dan kasus yang terekam baik di komputer sudah mencapai 2000 orang lebih. Ini merupakan kerja keras para anggota Pokdi dan kepercayaan masyarakat, layanan Pokdi cukup bermutu dan manusiawi.  

 

Peran Pokdi di dalam penanggulangan nasional 

Semula Pokdi menjadi salah satu anggota Eksofisio Penanggulangan AIDS Nasional. Namun dengan perombakan struktur tidak lagi. Meski demikian Pokdi secara mandiri melakukan kegiatan baik di Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia untuk menginformasikan ancaman AIDS di Indonesia serta juga berupaya menyiapkan tenaga kesehatan untuk menatalaksanakan kasus AIDS. Berbagai pelatihan dilakukan mulai dari pelatihan konselor sekitar tahun 1990 dan pelatihan penatalaksanaan. Kami juga mengadakan pertemuan bulanan yang tidak hanya mengundang anggota Pokdi tapi juga teman sejawat dari rumah sakit lain. 

 

Bagaiamana cerita Pokdi mengupayakan tersedianya obat ARV generik di Indonesia 

Ya, itu ceritanya cukup panjang. Pada tahun 1996 diketahui bahwa gabungan 3 macam obat ARV mempunyai manfaat yang baik dalam terapi AIDS. Manfaatnya meliputi penurunan angka kematian dan masuk rumah sakit, pemulihan kembali sistem imun (peningkatan CD4), penekanan jumlah HIV di darah sampai tak terdeteksi serta mengurangi risiko penularan pada orang lain karena jumlah virus dalam tubuh penderita amat sedikit. Namun obat tersebut harganya mahal. Sebulan sekitar 8-10 juta. Sudah tentu bagi masyarakat di negara miskin obat semahal itu tak mungkin terjangkau. Untunglah pada tahun 2000 India berhasil membuat obat generik ARV, keberhasilan ini merupakan satu-satunya harapan masyarakat di negara berkembang karena harganya hanya sekitar 300.000 perbulan. Namun harapan tersebut tak dapat terlaksana begitu saja. Pemerintah Afrika Selatan yang membeli obat dari India dan membagikan obat ARV tersebut pada rakyatnya. Namun pemerintah Afrika Selatan dituntut oleh perusahaan obat multi nasional telah melanggar hak paten. Untunglah pengadilan memenangkan pemerintah Afrika Selatan karena pemerintah tidak memperdagangkan obat tersebut tapi membagikan dengan cuma-cuma untuk kepentingan rakyatnya. Di Thailand pun perusahaan multi nasional tak mengijinkan begitu saja pengadaan obat ARV generik di negara tersebut. Meski banyak kritik pada perusahaan obat multi nasional tersebut namun nampaknya mereka tak rela obat ARV menjadi murah dan digunakan di negara miskin. Untunglah pada pertemuan WTO di  Qatar tahun 2003 disepakati bahwa obat yang diperlukan untuk penyakit yang banyak terdapat di masyarakat seperti Tbc, malaria  dan AIDS dapat dibuat bentuk generiknya. Dengan demikian terbuka peluang untuk menggunakan obat generik di negara berkembang secara terbuka. Pokdi mengirim seorang staf ke India untuk memperoleh obat generik bagi Indonesia. Saya masih ingat karena kita tak punya uang staf tersebut hanya membawa uang seribu dolar Amerika sehingga hanya memperoleh 30 paket obat ARV dan itulah yang menjadi cikal bakal penggunaan obat ARV generik di Indonesia. 

 

Prosedur birokrasinya ?  

Sudah tentu Pokdi harus memperoleh izin dari badan POM dan Depkes, untunglah izin tersebut dapat diperoleh. Penggunaan obat generik di Indonesia dengan demikian sudah berjalan sejak tahun 2001 karena kemudian Pokdi mendatangkannya dari India melalui pos.  

 

Apakah beban ini tak terlalu berat bagi Pokdi, darimana modal untuk melaksanakan tugas tersebut 

Ini memang merupakan beban berat bagi Pokdi. Kami tidak  punya uang, hanya karena punya idealisme kami semua berusaha mewujudkan mimpi kami. Jika perlu keluar uang dari kantong sendiri. Perjuangan untuk melaksanakan terapi ARV di kalangan ASEAN juga dipelopori oleh Pokdi dengan mengadakan pertemuan Jogja Round Table Meeting yang dihadiri oleh negara-negara ASEAN, sekretariat ASEAN, peninjau dari Australia, Amerika, Jepang, India dll. Di sinilah suara keras negara ASEAN di kumandangkan berupa keinginan untuk memberikan terapi ARV pada masyarakat yang memerlukan di ASEAN. Kami menyadari sepenuhnya upaya pencegahan merupakan upaya utama namun karena jumlah orang yang terinfeksi sudah banyak maka upaya terapi tak dapat diabaikan. Kami juga ingin penderita di negara kami dapat diselamatkan. 

 

Dana untuk pertemuan tersebut darimana ? 

Untuk peserta ASEAN datang dengan biaya transportasi mereka sendiri. Kami hanya menanggung akomodasi dan makan. Peserta sekitar 100 orang. Biaya untuk  akomodasi dan makan sederhana ini didapat dari biaya pendaftaran peninjau yang lumayan banyak dan juga kami memperoleh dukungan dari WHO sepuluh ribu dolar dan Yayasan Ford sepuluh ribu dolar. Dengan biaya sehemat mungkin pertemuan ini dapat terlaksana. Pertemuan ini diliput oleh sebuah majalah di Australia dan dikatakan merupakan pertemuan yang paling hemat dan sederhana yang mereka saksikan. Kerjasama selanjutnya adalah kerjasama untuk menjamin tersedianya obat ARV generik di kawasan ASEAN. Produsen obat ARV generik di ASEAN adalah Thailand, Indonesia (PT Kimia Farma) dan Vietnam. Jadi negara ASEAN harus saling membantu apalagi kebutuhan ini semakin lama semakin tinggi. 

 

 

 

Kalau begitu peran akademisi dalam penangulangan AIDS di Indonesia cukup berarti 

Sejarahnya memang demikian. Tidak hanya di UI. Dr. Tuti Parwati di Universitas Udayana, Prof. Guntur di Universitas Brawijaya, Dr. Rachmat Sumantri di Universitas Pajajaran, Prof. Halim Mubin di Universitas Hasanudin dan banyak lagi teman-teman di Universitas yang telah mempelopori upaya penangulangan AIDS di Indonesia. Dengan demikian sesuai dengan tujuan pembangunan Milenium tahun 2015 agar AIDS di Indonesia dapat dikendalikan dan diturunkan angka penularannya maka semangat tersebut perlu dihidupkan terus. Mudah-mudahan keberadaan Pokdi akan dapat melayani kebutuhan masyarakat. Ini akan dapat kita capai jika staf pengajar, mahasiswa serta pimpinan fakultas peduli pada peran fakultas  yang cukup strategis ini. Salah satu semangat yang perlu dijaga dalam upaya penanggulangan AIDS dan mungkin juga dalam bidang lain adalah semangat menuju kemandirian, membangun  potensi dalam negeri serta menghindari ketergantungan pada bantuan luar negeri.           

 


 

Pertemuan dengan teman-teman di kawasan ASEAN 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ongkos Tak Berbuat

January 25, 2007

Judul tulisan ini merupakan terjemahan cost of inaction yang menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan konsultasi HIV/AIDS Asia Pasifik di Pattaya, Thailand beberapa waktu yang lalu. Untuk melakukan upaya penanggulangan penyakit diperlukan biaya namun jika upaya penanggulangan tidak dilakukan karena penyakit tersebut masih belum merupakan ancaman ternyata biayanya dikemudian hari akan lebih besar. Rupanya dalam penyakit menular seperti juga kebakaran hutan upaya pencegahan semasa penyakit belum menular luas lebih hemat daripada jika sudah meluas ke seluruh negeri. Permasalahan biaya tak berbuat atau tak cukup berbuat dalam upaya penanggulangan penyakit menular di negeri kita perlu juga dibahas sehingga tidak timbul sikap bahwa kita dapat berhemat dengan tidak melakukan upaya pencegahan. Permasalahan ini mungkin relevan jika kita kaitkan dengan dua penyakit menular yang menjadi perhatian masyarakat yaitu flu burung dan demam berdarah serta suatu masalah yang semakin sering dibicarakan yaitu sampah.  

Flu Burung  

Sampai tanggal 5 Juni 2006 jumlah kasus flu burung di Indonesia menurut Departemen Kesehatan telah mencapai 51 orang dengan kematian 37 orang. Dalam mengikuti peningkatan kasus flu burung penulis teringat pada peningkatan kasus HIV/AIDS pada awal tahun sembilan puluhan, dalam satu bulan hanya satu dua kasus baru. Namun sekarang kasus HIV/AIDS yang tercatat telah melebihi 10.000 dengan estimasi di masyarakat pada tahun 2002 saja sudah mencapai 90.000 sampai 130.000. Apakah peningkatan kasus flu burung di Indonesia akan menyerupai peningkatan kasus HIV/AIDS ? Mungkin tidak. Sampai saat ini penularan flu burung masih dianggap dari  unggas ke manusia. Namun kalau terjadi penularan dari manusia ke manusia banyak pakar yang berpendapat akan terjadi penularan yang amat cepat (pandemi) dengan korban meninggal yang amat banyak. Apa yang harus dilakukan masyarakat pada masa jumlah kasus flu burung ini masih terbatas ? Masyarakat perlu mengamalkan perilaku baru jika kontak dengan unggas. Harus menjaga kebersihan, menggunakan sarung tangan atau masker jika perlu dan tidak sembarangan mendekati unggas yang sakit atau mati. Apa yang harus diperbuat oleh pemerintah untuk membentuk perilaku baru ini ? Pemerintah perlu melakukan penyuluhan dan pembinaan sehingga perilaku baru tersebut diamalkan oleh seluruh warga Indonesia yang berkontak baik secara langsung maupun tak langsung dengan unggas. Indonesia merupakan negara yang luas dengan jumlah penduduk melebihi 200 juta. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk merubah perilaku tersebut. Padahal pandemi flu burung masih merupakan perkiraan belum tentu terjadi. Apakah tidak lebih hemat sementara belum pasti kita melakukan upaya sekadarnya saja ? Dalam kunjungan ke berbagai daerah saya berusaha untuk mengetahui sejauh mana masyarakat pada tingat pedesaan sudah merubah cara berkontak dengan unggas. Sudah tentu yang saya peroleh hanyalah kesan, namun kesan tersebut berupa tidak ada perubahan yang dilakukan. Masyarakat berkontak dengan unggas seperti belum ada flu burung, padahal pemerintah telah menyatakan flu burung telah ditemukan di sebagian provinsi di Indonesia. Masayarakat bukan tak pernah mendengar tentang flu burung, mereka kerap mendengar dari radio, menonton  TV atau membaca di surat kabar. Mereka hanya sekedar tahu tapi tak diajak secara aktif untuk merubah perilaku. Mereka membutuhkan contoh bagaimana cara berkontak dengan unggas sehingga risiko tertular flu burung dari unggas atau keluarga yang sedang sakit dapat dikurangi. Siapa yang dapat melatih mereka untuk menumbuhkan perilaku baru tersebut ?. Thailand yang melaporkan 23 kasus flu burung pada manusia (lebih sedikit daripada Indonesia) namun negeri ini telah memepersiapkan 800.000 relawan di pedesaan untuk menghadapi pandemi flu burung. Vietnam yang merupakan negara yang melaporkan jumlah kasus manusia tertinggi yang terkena flu burung (93 orang) telah melakukan latihan simulasi pandemi flu burung. Pada simulasi tersebut dipantau apa yang akan dilakukan masyarakat, petugas kesehatan masyarakat, rumah sakit, ambulans bahkan pembentukan rumah sakit lapangan. Karena jika benar terjadi pandemi maka jumlah kasus tak akan tertampung  di seluruh tempat tidur yang tersedia. Upaya penyuluhan masyarakat di Indonesia nampaknya masih kurang terbukti dengan tingginya resistensi masyarakat untuk memeriksakan unggas atau diri mereka. Masyarakat yang belum paham tentu sulit diharapkan dapat mengamalkan perilaku yang menguntungkan bagi kesehatan mereka. Di tengah maraknya pembicaraan tentang vaksin dan obat flu burung tamiflu sebenarnya tugas kita yang utama adalah melatih masyarakat cara berhubungan dengan ternak yang sehat sehingga penularan penyakit dikurangi. Cara tersebut memang tidak mudah diterapkan  karena eratnya hubungan antara unggas dan manusia di pedesaan kita, namun kebiasaan-kebiasaan yang memudahkan penularan dapat dihilangkan tanpa membangun sarana yang ideal. Media massa dapat membantu perubahan perilaku masyarakat ini  dengan merubah fokus pemberitaan yang sifatnya klinis ( agaknya sudah jenuh ) ke  kesehatan masyarakat . 

Demam Berdarah  

Setiap tahun Demam Berdarah melanda negeri kita. Sekitar 600-700 orang kebanyakan anak-anak meninggal dunia karena penyakit ini. Karena berlangsung setiap tahun masyarakat telah menganggapnya sebagai hal biasa. Demam Berdarah  menjadi tidak biasa jika keluarga kita yang jatuh sakit. Masyarakat biasanya menyalahkan Puskesmas yang tak kunjung melakukan pengasapan atau daya tampung rumah sakit yang terbatas. Meski pemerintah (misalnya Pemda DKI) telah menyediakan dana milyaran rupiah namun korban terus berjatuhan. Apakah mungkin kita memutus siklus tahunan ini? Jawabannya adalah mungkin yang telah dibuktikan oleh negara berkembang seperti kita juga yaitu Kuba. Kenapa Kuba berhasil menanggulangi Demam Berdarah sehingga sejak tahun 2002 negara ini tidak ada lagi laporan kasus Demam Berdarah ? Apakah pakar kesehatannya lebih hebat daripada Indonesia ? Pakar kesehatan Indonesia juga hebat termasuk dalam pemahaman Demam Berdarah. Bedanya adalah Kuba berhasil mengajak masyarakatnya memberantas Demam Berdarah. Sedangkan di Indonesia masyarakat menunggu agar pemerintah  memberantas Demam Berdarah. Masyarakat tidak berbuat.Peran murid Sekolah Lanjutan Pertama dalam pemberantasan Demam Berdarah di Kuba cukup menonjol. Pelajaran biologi yang menyangkut siklus hidup nyamuk diperkaya dengan praktikum mencari jentik di pemukiman sekitar sekolah setiap hari Sabtu selama satu jam. Praktikum ini dilakukan secara terus menerus. Jika murid berhasil menemukan jentik atau genangan air yang memungkinkan hidupnya jentik nyamuk maka guru pembimbing akan mengkonfirmasi sekaligus melakukan penyuluhan pada penghuni rumah agar genangan air seperti itu jangan sampai ada lagi di sekitar rumah karena dapat membantu penularan Demam Berdarah yang dapat membunuh anggota keluarganya. Gerakan yang amat sederhana ini dibantu oleh organisasi perempuan serta lembaga swadaya masyarakat lain ternyata berhasil meredam penularan Demam Berdarah. Sekarang pengamatan Demam Berdarah tetap dilakukan di Kuba tapi yang dilaporkan bukan lagi korban yang sakit atau meninggal (seperti di Indonesia) namun kepadatan  jentik nyamuk di berbagai propinsi. Mungkinkah kita meniru Kuba ? Bukanlah penduduk Indonesia mencapai 220 juta sedangkan Kuba hanya 11,2 juta ?   Jika program ini terlalu besar untuk jumlah penduduk 220 juta maka dapat di mulai di Jakarta (12 juta) atau propinsi lain yang penduduknya tidak terlalu banyak. Namun  persoalan sebenarnya bukanlah pada jumlah penduduk tapi pada keberhasilan kita menggerakkan masyarakat untuk menanggulangi Demam Berdarah. Upaya penanggulangan Demam Berdarah di Indonesia belum berhasil melibatkan masyarakat secara luas sehingga masyarakat tidak berbuat dan hanya menunggu upaya pemerintah. 

Sampah  

Sampah bukanlah penyakit menular meski dapat menjadi sumber penularan penyakit. Berbagai kota besar di Indonesia sudah mulai menghadapi persoalan sampah. Tempat pembuangan sampah semakin kurang. Padahal desa Banjarsari di Jakarta Selatan dan desa desa lain yang mampu mengelola sampah sendiri menunjukkan bahwa sampah bukan hanya dapat dikelola tapi juga dapat  menghasilkan uang. Mengapa desa-desa lain tak dapat diajak mengelola sampah seperti desa tadi ? Siapa yang harus menggerakkan?. Masyarakat diminta mengelola sampah pada tingkat rumah tangga terlebih dahulu barulah sisanya di kelola bersama atau oleh pemerintah. Menggerakkan masyarakat memang bukanlah pekerjaan mudah, perlu contoh nyata dan pembinaan berkesinambungan. Kita memerlukan pemimpin akar rumput yang bersedia menggerakkan masyarakat mencapai keadaan yang lebih baik. 

Lemahnya ketahanan masyarakat pada tingkat kampung dan desa yang tergambar dari maraknya penggunaan narkoba, alkohol, kebisaan berjudi, lingkungan hidup yang tak sehat  menunjukkan bahwa desa dan kampung kita mudah tergoda oleh berbagai perilaku yang tak menguntungkan bagi kesehatan atau kesejahteraan mereka. Mungkinkah kita meningkatkan kembali ketahanan desa atau kampung kita? Jika kelompok kecil masyarakat terlatih untuk melakukan perbuatan yang menguntungkan bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka maka mereka akan mudah diajak bertanggung jawab terhadap berbagai penyakit seperti flu burung, demam berdarah atau masalah sosial lainnya. Apakah konsep desa siaga akan menjawab kebutuhan ini ? Patut kita renungkan yang dibutuhkan masyarakat adalah tindakan nyata bukan hanya sekedar wacana. Biaya untuk tidak berbuat ( tidak cukup berbuat) amatlah tinggi.  

Samsuridjal Djauzi Pengajar pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.           

Mengembangkan Potensi Perempuan

January 25, 2007

Kampus “universitas” Empower tidak seluas kampus universitas Chulalongkorn, Siriraj, Mahidol atau universitas resmi lainnya di Thailand. Kampus universitas Empower terletak di lantai III sebuah gedung di Patpong, daerah yang terkenal dengan industri seks di Bangkok. Di daerah ini terdapat puluhan  bar, panti pijat, klub malam yang mempekerjakan perempuan muda. Mereka mulai bekerja biasanya setelah matahari tenggelam sampai larut malam. Siang hari sebagian mereka menjadi ”mahasiswa” universitas Empower. Ketika penulis dan teman-teman berkunjung ke yayasan Empower sore hari bulan Desember 2006 sebagian ruangan masih dipakai untuk kegiatan kuliah. Kami harus menunggu sebentar untuk berbincang dengan Chantawipa Apisuk, suaminya, serta pengurus yayasan Empower lainnya. Penulis mengenal Cahantawipa Apisuk, perempuan enerjik yang akrab dipanggil Noi sejak tahun 1990. Waktu itu Noi datang ke Indonesia untuk melatih Lembaga Swadaya Masyarakat di Indonesia yang bergerak dalam bidang penanggulangan AIDS. Yayasan Pelita Ilmu, sebagai yayasan yang baru berdiri,  banyak belajar dari Noi.  Yayasan Empower telah 21 tahun mendampingi perempuan yang bekerja di industri seks di berbagai kota di Thailand. Mereka mempunyai kegiatan di tujuh lokasi di Thailand dan setiap tahun menerima sekitar 30.000 perempuan. Empower percaya bahwa potensi perempuan dapat dikembangkan, karena itulah misi utama Empower adalah mengembangkan potensi tersebut. Noi lebih menekankan pendekatannya kepada perempuan bukan pada pekerja seks.    

 

Tekanan Kemiskinan  

Universitas Mahidol pernah menerbitkan buku mengenai bagaimana proses gadis di pedesaan Thailand menjadi pekerja seks di kota besar. Buku tersebut ditulis oleh seorang pakar antropologi sosial. Para tengkulak dari kota besar menawarkan kredit barang-barang konsumtif kepada petani yang tinggal di propinsi yang kurang subur di utara Thailand. Para petani tergiur  untuk memiliki televisi, lemari es, motor serta barang konsumtif lainnya. Namun penghasilan mereka tak mencukupi untuk membayar kredit barang konsumtif tersebut. Dalam budaya Thailand berhutang merupakan kehinaan dan bagaimanapun kesulitan penghutang, hutang harus dilunasi. Karena itu banyak petani yang membayar hutang mereka ke kreditor dengan cara menyerahkan  anak gadis mereka. Anak gadis yang masih bersekolah di SMP atau di SMU diberhentikan dan diserahkan kepada kreditor. Sudah tentu anak gadis tersebut tidak ingin meninggalkan sekolah mereka, mereka menangis, meronta  dan berontak. Namun pada akhirnya mereka harus mematuhi keinginan orang tua mereka. Dengan diantar oleh orang tua, mereka menuju kota besar. Tinggal bersama mucikari dan memulai kehidupan baru sebagai pekerja seks. Dalam bahasa Thailand mereka menyebut pekerjaan mereka sebagai “tarmngaan” yang berarti bekerja dalam pengertian  pekerjaan yang mulia. Mereka bekerja sebagai pekerja seks untuk menyelamatkan muka orang tua mereka.Lingkungan pekerjaan baru menyebabkan gadis desa mempunyai uang banyak, rentan tertular penyakit menular dan mudah ditipu lelaki hidung belang yang berpura-pura mencintai mereka. Banyak perempuan yang merasa menemukan kekasih padahal laki-laki tersebut hanya ingin menguras uang gadis desa tersebut.Empower menyadarkan hak mereka sebagai perempuan. Kuliah di Empower lebih menekankan cara hidup di kota besar. Mereka diajarkan untuk mengambil keputusan yang baik untuk dirinya, menyimpan uang di bank, bahasa Inggris dan di dorong untuk terus belajar. Mereka memerlukan ketrampilan bahasa Inggris karena sebagian besar langganan mereka adalah turis asing. Di kampus Empower juga dilaksanakan pendidikan informal semacam kejar paket B dan paket C. Sebagian lulusan paket C melanjutkan kuliah di Universitas yang resmi. Mengapa Yayasan Empower menyebut kegiatan pelatihan mereka Universitas ? Ya , disini adalah kampus kehidupan, kata Noi. Kami tak mengajarkan banyak teori namun lebih menekankan ketrampilan yang diperlukan dalam kehidupan. Di sini yang diutamakan bukan ijazah tapi ketrampilan untuk berhasil mengarungi gelombang kehidupan. Namun demikian  Empower juga memberi kesempatan bagi mahasiswanya untuk mengikuti pendidikan formal. Sudah cukup banyak perempuan yang didampingi Empower lulus sarjana ekonomi, sastra, hukum, dan lain-lain. Juga tidak sedikit yang sudah menjadi pengusaha meski tak menamatkan pendidikan universitas. Mereka tidak saja berhasil keluar dari pekerjaan sebagai pekerja seks tapi berhasil menjadi warganegara yang produktif. Keberhasilan Empower dapat dipahami karena perempuan yang didampingi pada dasarnya adalah perempuan muda yang masih ingin bersekolah dan ingin mempunyai masa depan yang lebih baik.Tekanan kemiskinan keluargalah yang  menjadikan mereka pekerja seks.  Empower hanya mengembangkan potensi mereka, membuka kembali jalan untuk  meraih cita-cita mereka. 

 

Layanan Lintas Batas 

Pendampingan Empower tidak hanya dilakukan terhadap perempuan yang berasal dari pedesaan  Thailand. Empower juga mendampingi para perempuan di perbatasan Thailand yang berasal dari Myanmar, Laos dan Kamboja. Keadaan perempuan di perbatasan ini lebih menyedihkan. Mereka sulit mengakses layanan publik seperti layanan kesehatan karena tidak mempunyai kartu penduduk. Mereka tidak pandai berbahasa Thailand.  Tersentuh oleh kepedihan yang dirasakan para perempuan di pebatasan ini suami Chantawipa, Apisuk, menciptakan personifikasi perempuan muda yang diwujudkan dalam bentuk patung. Patung ini dibawa berkeliling dan dijadikan maskot dalam teater jalanan. Teater ini berkeliling di kota besar Thailand dan menyuarakan kepedihan dan harapan perempuan muda di perbatasan yang terabaikan itu. Apisuk memang sehari-hari merupakan seniman perupa yang terkenal tidak hanya di Thailand namun juga pada tingkat global. Apisuk membantu meningkatkan harga diri perempuan muda dengan teater. Mereka diajak bermain teater dan mengaktualisasikan diri mereka dalam berbagai peran. Menurut Apisuk tidaklah sulit bagi para perempuan muda tersebut bermain sebagai pekerja seks, pelanggan maupun polisi karena mereka mengenal karakter-karakter tersebut dengan akrab.  Ibu Meiwita (Yayasan Ford Indonesia) yang ikut dalam rombongan kami  menyebut kegiatan Empower sebagai suatu kegiatan yang unik. Empower tidak melakukan pendekatan melalui belas kasihan tapi percaya bahwa perempuan mempunyai potensi untuk berkembang dan mandiri. Empower berusaha untuk mengembangkan potensi tersebut terlepas masa lalu dan keadaan sekarang perempuan tersebut sebagai pekerja seks. Label pekerja seks ternyata tidak perlu mengikat kaki  mereka untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik. Mereka dapat bangkit dan meraih cita-cita mereka sewaktu kecil. Pengalaman Empower dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita. 

(Samsuridjal Djauzi, Yayasan Pelita Ilmu)    

 

Hubungan Industri Farmasi dan Dokter

January 25, 2007

Di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia saya memberikan kuliah Hubungan Dokter-Pasien. Mahasiswa kedokteran perlu mempunyai ketrampilan berkomunikasi dan mempunyai empati untuk membina hubungan dokter-pasien yang baik. Hubungan dokter pasien diperlukan untuk mencapai hasil pengobatan yang diinginkan. Dalam mata ajaran dibahas mengenai cara meningkatkan ketrampilan berkomunikasi serta menumbuhkan empati. Jika dokter mampunyai ketrampilan komunikasi yang baik serta mempunyai empati maka ketrampilan tersebut akan merupakan modal utama dalam mengamalkan  etik kedokteran. Hubungan dokter-pasien dewasa ini merupakan topik yang semakin sering dibahas. Apalagi dengan semakin meningkatnya ketidakpuasan pasien dan keluarga terhadap layanan dokter di Indonesia maka pentingnya hubungan dokter-pasien yang baik semakin dirasakan.Bagaimana pula dengan hubungan industri farmasi dan dokter ? Kita dapat memandang hubungan ini dari berbagai segi. Media massa sering memberitakannya sebagai hubungan yang kurang sehat dan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan harga obat di Indonesia semakin tak terjangkau. Industri farmasi  melalui perusahaan yang memasarkan obatnya dituduh dengan berbagai cara membujuk dokter untuk meresepkan produknya. Sedangkan dokter diduga telah mengambil keuntungan dari peresepan obat tersebut. Opini publik mengenai hubungan seperti itu cukup kuat seolah memang sebagaian besar dokter melakukannya. Upaya profesi kedokteran dan farmasi untuk menegakkan etik dalam peran masing-masing sebenarnya cukup nyata. Ikatan Dokter Indonesia berkali-kali mengingatkan anggotanya agar berpihak pada masyarakat lemah dan tidak tergoda bujuk rayu perusahaan farmasi. Di lain pihak profesi kepfarmasian serta perhimunan industri farmasi juga telah menyusun etik pemasaran yang pada dasarnya mencegah pemasaran obat dengan cara hubungan tak sehat dengan dokter. Pada panduan pemasaran tersebut jelas disebutkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pemasaran obat yang berkaitan dengan hubungan industri farmasi dengan dokter. Pemberian hadiah apalagi uang dilarang. Perusahaan farmasi dapat mendukung program pengembangan profesi dokter namun dukungan tersebut tidak dilakukan untuk perorangan tapi untuk pengembangan  profesi atau institusi. Jika profesi kedokteran dan kefarmasian sudah mempunyai rambu-rambu dalam hubungan industri farmasi dan dokter kenapa masih ada kecurigaan masyarakat ?Masyarakat merasakan beban harga obat yang semakin tinggi. Meski mereka memahami biaya untuk penemuan obat baru amat mahal namun mereka juga merasakan bahwa banyak obat sekarang ini yang harganya sudah lebih tinggi daripada emas. Obat yang sudah habis masa patennya di Indonesia tak kunjung turun harganya. Padahal di negeri lain obat tersebut harganya  diturunkan secara nyata. Beban yang dipikul masyarakat semakin terasa berat karena sebagian besar anggota masyarakat harus membayar harga tersebut dengan uang dari kantong mereka sendiri. Jumlah peserta asuransi kesehatan di negeri kita belumlah seperti yang diharapkan.Mungkinkan hubungan industri farmasi-dokter dikembangkan untuk kepentingan yang lebih luas yaitu masyarakat. Industri farmasi memproduksi obat yang bermutu serta biaya pemasarannya tidak tinggi. Dokter menggunakan obat secara rasional dan tidak terpengaruh oleh bujukan perusahaan farmasi. Persaingan yang sehat di kalangan industri farmasi akan memperkuat industri farmasi. Sedangkan penggunaan obat secara rasional sesuai dengan prinsip profesi keberpihakkan kepada masyarakat luas (altruisme). Maukah industri farmasi di Indonesia meningkatkan kemampuannya sehingga lebih mampu bersaing ? Maukah kalangan kedokteran menghapus berbagai previlege yang mungkin ada selama ini sebagai efek samping persaingan pemasaran obat yang tidak sehat ? Nampaknya jawabannya hanya satu yaitu : harus mau. Kalau tidak kepercayaan masyarakat kepada industri farmasi dan profesi kedokteran di negeri kita akan semakin pudar. 

(Dr. Samsuridjal Djauzi)       

Tantangan Pengobatan AIDS di Indonesia

January 25, 2007

Meski obat Antiretroviral (ARV) yang digunakan untuk pengoabtan AIDS sudah dinyatakan bermanfaat pada tahun 1996 namun penggunaan obat ini  secara meluas di negara yang sedang berkembang barulah pada tahun 2004.Obat ARV tidak hanya menurunkan angka kematian dan kesakitan tapi juga meningkatkan kualitas hidup Orang dengan HIV/AIDS (Odha). Bahkan risiko penularan HIV pada orang lain juga akan berkurang karena jumlah virus dalam tubuh orang yang terinfeksi dapat ditekan serendah mungkin. Berkat kebijakan organisasi kesehatan sedunia WHO , negara yang sedang berkembang dimungkinkan menggunakan obat ini. Di Indonesia berkat dukungan pemerintah obat ini juga sudah digunakan secara cuma cuma sejak tahun 2004. Bahkan sejak akhir tahun  2003  PT Kimia Farma telah mampu memproduksi obat ini  di Indonesia. Dengan subsidi penuh pemerintah diharapakan obat AIDS dapat digunakan secara merata oleh masyarakat yang memerlukan. Namun pada pelaksanaan  penggunaan  obat ARV di Indonesia selama dua tahun ini masih ditemukan berbagai hambatan.  

Diagnosis Terlambat  

Penelitian Dr Indah Mahdi  pada sebuah rumah sakit di Jakarta, menunjukkan bahwa sekitar 30 % Odha yang dirawat di rumah sakit meninggal pada tahun pertama . Pada umumnya kematian terjadi di rumah sakit akibat infeksi oportunistik. Bahkan tidak sedikit Odha  meninggal sebelum sempat menggunakan obat ARV. Keterlambatan datang berobat disebabkan oleh kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan AIDS masih kurang bahkan masih banyak olrang yang takut menjalani tes HIV. Jika di berbagai klinik di rumah sakit di luar negeri Odha telah menggunakan obat ARV pada waktu kekebalan tubuhnya masih cukup tinggi maka di Indonesia sebagian besar datang dalam keadaan kekebalan tubuh yang amat rendah. Kekebalan tubuh yang rendah berisiko timbulnya infeksi oportunistik (infeksi yang menumpang) dan infeksi ini dapat menimbulkan kematian. Jadi untuk meningkatkan keberhasilan terapi kita perlu bersama mengajak masyarakat  untuk menjalani tes sehingga infeksi HIV dapat ditemukan pada stadium dini. Layanan testing dan konseling sukarela juga harus disediakan secara merata di seluruh tanah air.Pemerataan layanan ARV diusahakan dengan menyediakan obat ini di 75 rumah sakit di Indonesia. Jumlah ini tentu masih kurang mengingat luasnya wilayah negeri kita. Selain itu kemampuan layanan juga masih beragam sehingga di beberapa unit layanan, kemampuan pelayanan masih harus ditingkatkan. Selain itu akibat kepekaan petugas kesehatan yang masih kurang  terhadap gejala  AIDS maka banyak kasus yang tak terdiagnosis.  Masih sering di dapatkan penderita yang mengalami keluhan berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain tanpa ditemukan diagnosis pasti. Barulah setelah tes HIV dilakukan, diketahui sebenarnya yang bersangkutan menderita AIDS.  

Pengadaan Obat ARV  

Di Indonesia pengadaan obat ARV termasuk cepat. Setelah Thailand . Indonesia merupakan negara kedua di ASEAN yang memproduksi obat ARV. Kemampuan memproduksi sendiri ini dapat dicapai berkat kerjasama yang baik antara aktivis AIDS, pemerintah , DPR dan industri farmasi (PT Kimia Farma). Kemampuan memproduski sendiri obat ARV penting sehingga kita tak bergantung pada obat impor . Dengan demikian kesinambungan obat ARV dan juga harganya dapat dikendalikan. Sejarah pengadaan obat ARV dinegera yang sedang berkembang merupakan cerita yang penuh perjuangan . D Thailand pemicu pengadaan obat ARV di dalam negeri adalah penangkapan obat ARV generik yang diselundupkan oleh aktivis AIDS Thailand. Mereka membeli obat ARV generik di India yang harganya hanya skitar 5 % dari obat paten. Ketika membawa masuk ke Thailand  obat ini tertahan arena tidak dilengkapi surat surat yang diperlukan. Fihak bea cukai Thailand  kemudian berencana  memusnahkan obat AIDS ini. Timbul silang pendapat yang cukup menegangkan tentang pemusnaah obat ini. Kenapa obat yang amat diperlukan oleh Odha di Thailand justru akan dimusnahkan oleh pemerintah Thailand ?. Kemudian timbul  aksi unjuk rasa menentang pemusnahan obat ini yang makin lama makin besar . Aksi unjuk rasa ini juga didukung oleh para akademisi . Sebagai jalan keluar akhirnya pemerintah Thailand memutuskan agar obat ARV di produski di Thailand. Di Indonesia gagasan pengadaan obat ARV produksi di dalam negeri timbul seteleh salah seorang pengurus Kelompok Studi Khusus AIDS FKUI/RSCM berkunjung ke India dan berhasil mendapat komitmen   produsen obat ARV generik India untuk menyediakan obat bagi  Odha di Indonesia. Pokdisus mendapat izin dari Badan POM dan Depkes untuk melaksanakan  layanan akses khusus obat ARV. Ternyata kebutuhan  obat ARV generik cukup tingi sehingga Pokdisus tak mampu lagi  menalangi pembelian obat ARV generik ini dan mendorong perusahaan obat milik pemerintah untuk memproduksi obat ini  di Indonesia. PT Kimia Farma beresedia memproduksi obat ARV ini . Sudah tentu  perusahaan obat multi nasional yang  mempunyai paten obat ini tidak tingal diam. Untunglah masalah ini dapat diatasi melalui keputusan presiden yang menyatakan bahwa obat ARV merupakan kebutuhan masyarakat dan merupakan salah satu upaya  dalam penanggulangan AIDS di Indonesia .Produsen obat paten diberi kompnesasi sebesar 0,5 % dari penjualan ARV generik. 

 

Kebutuhan Meningkat  

Penggunaan obat ARV ternyata meningkat tajam. Jika pada awal 2004 hanya sekitar 700 orang yang menggunakan maka sampai Juni 2006 angkanya sudah menjadi 6300 orang. Jumlah ini akan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan kepedulian perugas kesehatan yang mengadakan penyuluhan dan testing, konseling sukarela. Sampai saat ini biaya yang terbesar untuk pengadaan obat ARV ini berasal dari anggaran pemerintah. Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen yang tinggi pada program WHO untuk menyediakan obat ARV.Namun di masa depan dua hal penting yaitu resistensi obat dan kelangkaan bahan baku  dapat merupakan penghalang. Resistensi HIV terhadap obat ARV mudah timbul jika penggunaan obat tidak dilaksanakan dengan baik sesuai pedoman WHO . salah satu faktor penting adalah penggunaan obat secara teratur, berkesinambungan dnegan dosis yang benar.Jika terjadi putus obat maka risiko resistensi akan meningkat.. Penggunaan obat ARV tidak boleh dihentikan meski keadaan pasien sudah baik.  Karena itulah sebelum mengunakan obat ini pasien perlu mempersiapkan diri dengan baik.Pasien perlu mendapat  informasi yang baik dan lengkap. Dengan demikian pengunaan obat ini dapat berjalan dengan baik. Selain itu jika ada infeksi oportunsitik misalnya tbc , maka infeksi oportunistik harus diobati lebih dahulu. Barulah sekitar 2 bulan kemudian terapi ARV disusulkan. Hambatan lain adalah kemungkinan kesulitan mendapat bahan baku. Selama ini bahan baku obat ARV diperoleh  dari India dan Cina. Kedua negara ini telah menjadi anggota WTO pada tahun 2005 sehingga di masa depan  bukan tidak mungkin akan terjadi pengurangan  pasokan bahan baku ARV dari kedua megara ini. Padahal kebutuhan obat ARV di kawasan Asia Tanggara semakin bertambah, Thailand membutuhkan sedikitnya obat ARV untuk 100.000 orang, Kamboja 20.000 orang, Indonesia sekitar 30.000 orang  belum lagi negara ASEAN lainnya. Memang peraturan  perdagangan internasional sekarang kurang berfihak pada  negara yang sedang berkembang. Namun keadaan ini tentu tidak membuat kita kecil hati. Pejuangan untuk terus  membantu saudara saudara kita yang memerlukan obat ARV perlu diteruskan. Tak kalah pentingnya juga usaha kita untuk terus meningkatkan kemandirian kita di bidang kesehatan. (Samsuridjal Djauzi, Kelompok Studi Khusus AIDS FKUI/RS Ciptomangunkusumo Jakarta)          

Kerjasama Indonesia dan Kuba dalam Bidang Kesehatan

January 25, 2007

Ketika bangsa Indonesia menghadapi musibah bencana alam tim kesehatan Kuba mengirimkan tenaga kesehatan. Pada waktu bencana Tsunami 25 orang dokter spesialis Kuba melayani masyarakat di Aceh selama satu bulan. Sedangkan pada waktu bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah rombongan kesehatan yang datang jauh lebih banyak. Seratus tiga puluh lima tenaga kesehatan melayani masyarakat di Klaten melalui dua rumah sakit lapangan selama tiga bulan. Jumlah pasien berobat jalan sekitar 100.000 orang sedangkan yang mendapat layanan operasi sekitar 2000 orang. Pada waktu berkunjung ke Kuba, Presiden Susilo Bambang Yudoyono  menyampaikan ungkapan terima kasih pemerintah dan bangsa Indonesia kepada para relawan kesehatan Kuba dengan menyematkan tanda penghargaan. Pada bulan Desember rombongan Menteri Kesehatan Republik Indonesia akan berkunjung ke Kuba. Kerjasama Indonesia dan Kuba dapat diperluas tidak hanya dalam penanggulangan bencana namun pada berbagai upaya kesehatan lain  untuk meningkatkan kesejahteraan kedua negara. 

 

Layanan Dokter Keluarga di Kuba  

Dalam tiga kali kunjungan ke Kuba penulis sempat menyaksikan layanan dokter keluarga yang amat berperan dalam menunjang peningkatan taraf kesehatan masyarakat Kuba. Di daerah pemukiman (kampung atau rumah susun) tersedia layanan kesehatan keluarga yang didukung oleh dokter dan perawat. Dokter dan perawat tinggal di dekat poliklinik keluarga dan bertugas melakukan penyuluhan kesehatan, pencegahan penyakit serta pemeliharaan lingkungan. Penyediaan air bersih dan listrik amat membantu penyehatan lingkungan. Dokter keluarga bahkan berkunjung ke rumah atau kamar rumah susun untuk menyaksikan kebersihan lingkungan. Meski rumah susun di Kuba hampir serupa dengan rumah susun di Jakarta namun kebersihannya terjaga baik. Layanan kesehatan keluarga ini dapat dinikmati masyarakat secara gratis. Bahkan jenis imunisasi dan cakupan imunisasi bagi anak Kuba termasuk yang terbaik di antara negara di Amerika Latin. Vaksin untuk imunisasi di buat sendiri di Kuba oleh Institue Finlay. Institut ini selain memproduksi vaksin untuk masyarakat Kuba juga mengekspor produknya. Vaksin Hepatitis B yang digunakan di layanan kesehatan pemerintah di Malaysia misalnya berasal dari Kuba. Memang benar taraf pendidikan masyarakat Kuba yang tinggi amat mendukung kebiasaan hidup sehat. Puskesmas (Health Center)  di Kuba merupakan rujukan layanan klinik dokter keluarga. Layanannya  jauh lebih lengkap dari Puskesmas di Indonesia. Puskesmas di Kuba selain menyediakan layanan rawat jalan yang juga didukung oleh dokter spesialis,. juga menyediakan layanan gawat darurat dan rehabilitasi medis. Dengan demikian pada keadaan gawat mereka yang sakit mendapat pertolongan dekat rumahnya. Jika keadaan menghendaki barulah penderita di rujuk ke rumah sakit. Jadi penderita yang datang ke rumah sakit pada umumnya merupakan penderita yang di rujuk. Begitu pula dengan layanan rehabilitasi medik amat lengkap di Puskesmas, kebanyakan penderita yang pernah mengalami strok misalnya datang berjalan kaki atau dengan kursi roda ke Puskesmas. Mereka tak memerlukan transportasi karena layanan tak jauh dari rumah mereka. Lagipula memang masalah transportasi umum di Kuba menjadi masalah karena kendaraan pribadi amatlah jarang yang tersedia pada umumnya kendaraan umum. Di samping kebijakan Kuba yang amat berorientasi pada kesehatan masyarakat, layanan dokter keluarga merupakan salah satu layanan yang menghasilkan indikator kesehatan di Kuba menjadi amat baik. Angka kematian bayi hanya 5,8/1000 (Indonesia masih 30/1000), angka kematian ibu 31/100.000 (Indonesia masih 300/100.000). Angka kematian bayi di Kuba tidak hanya lebih baik dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang tetapi juga lebih baik dari negara yang sudah maju sekalipun (misalnya Amerika Serikat). Dalam membangun layanan kesehatan masyarakat dan dokter keluarga di Indonesia kita dapat bekerjasama dengan Kuba. 

 

Layanan Rumah Sakit 

Rumah sakit di Kuba baru saja mendapat dana segar dari pemerintahnya. Pemerintah Kuba  melengkapi perlengkapan alat kedokteran dan bangunan rumah sakit sehingga dapat menarik pasien dari luar Kuba. Program wisata kesehatan sudah mulai lama di promosikan dan jumlah orang asing yang berwisata dan berobat ke Kuba semakin meningkat. Mereka datang tidak hanya dari kawasan Amerika Latin namun juga dari Eropa (terutama Eropa Timur) dan Afrika. Jumlah pasien yang cukup besar adalah dari Veneuzela karena Kuba dan negera tersebut mempunyai perjanjian kerjasama pertukaran minyak dengan layanan kesehatan. Di Kuba terdapat rumah sakit internasional seperti rumah sakit ortopedi bekerjasama dengan Perancis, dan Rumah Sakit Hermano Alamaijeras yang letaknya amat trategis menghadap teluk Kuba. Salah satu lantai ini disediakan untuk perawatan orang asing dan dari rumah sakit kita dapat menikmati pemandangan laut biru yang terhampar di teluk Kuba.Sebagian rumah sakit di Kuba digunakan untuk pendidikan mahasiswa kedokteran serta pendidikan calon dokter spesialis. Pendidikan calon spesialis di Kuba diminati oleh berbagai negara. Mutunya baik dan kesempatan untuk melakukan tindakan medis terbuka luas. Masyarakat Kuba yang memerlukan tindakan operasi misalnya tak perlu membayar. Ini mengakibatkan jam terbang dokter Kuba tinggi. Berbagai teknik medis yang dilakukan di negara maju sudah  dilakukan di rumah sakit Kuba misalnya operasi dengan teknik endoskopi. Kerjasama dengan Kuba dalam bidang pendidikan kedokteran ini juga dapat dikembangkan. Kita terbiasa mengirim calon dokter spesialis ke negara maju dan biasanya menjadi pengamat dalam tindakan medis karena peraturan negara maju tak mengizinkan siswa asing menangani pasien di negara mereka. Kini salah satu alternatif adalah Kuba meski biaya transportasi akan mahal namun biaya hidup amatlah murah. Lagi pula calon spesialis atau konsultan itu dapat lebih aktif melakukan tindakan medis pada situasi yang lebih sama dengan di Indonesia. 

 

Kerajasama Farmasi 

Kerjasama dalam bidang ini telah berjalan namun dapat ditingkatkan. Perusahaan farmasi yang telah dan sedang mengadakan kerjasama antara lain PT. Kimia Farma, PT. Kalbe Farma, PT. Mahakam Farma. PT. Kalbe Farma bersama dengan CIM (Center for Immunology Molecular) di Havana mengadakan pengembangan bersama obat kanker yang diharapkan pada tahun 2008 sudah dapat dipasarkan. Sedangkan PT. Kimia Farma dan PT. Mahakam Farma sedang meregistrasikan beberapa obat produk Kuba di Indonesia  yang dalam jangka panjang diharapkan juga akan diproduksi di Indonesia. Salah satu bidang kerjasama yang potensial adalah dalam bidang pengembangan vaksin karena baik Indonesia maupun Kuba merupakan negara produsen vaksin yang produknya telah digunakan oleh UNICEF. Prof. Vicente dari Universitas Havana baru saja menemukan cara membuat vaksin Haemophylus influenza B dengan teknik sintetik oligosakarida. Pada umumnya vaksin ini dibuat melalui pembuatan  antigen yang berasal dari bakteri namun dia dan juga beberapa pusat penelitian di negara maju seperti Belanda, Jerman dan lain-lain berhasil membuat melalui cara sintetik kimia. Namun penelitian di luar Kuba dihentikan karena dengan teknik ini produksi vaksin menjadi lebih kompleks dan mahal. Namun Prof. Vicente tidak mennghentikan penelitiannya, teknik ini terus di modifikasi dan setelah 8 tahun dia berhasil memproduksi vaksin dengan teknik ini lebih sederhana dan lebih murah. Penelitiannya di publikasi di majalah yang mempunyai reputasi internasional namun yang lebih penting dia behasil menurunkan harga vaksin dengan cara ini yang amat relevan bagi negera yang sedang berkembang. Kerjasama pengembangan vaksin antara Indonesia dan Kuba amat potensial bagi kemajuan kedua negara.Pengembangan ilmu kedokteran dasar secara terpadu  di Kuba juga berhasil memajukan  industri biotek di bidang  farmasi sehingga produk biotek tersebut diekspor ke luar negeri. Bahkan Kuba berhasil memperoleh devisa yang lumayan melalui ekspor produk bioteknya. Menurut majalah Nature Biotech, keberhasilan Kuba dalam pengembangan industri biotek disebabkan sinergi yang amat baik antara universitas(lembaga penelitian) dengan industri farmasi dan pemerintah. Kerjasama ini juga sudah lama dicanangkan di Indonesia namun belum  berhasil diwujudkan dalam bentuk konkret.  Kerjasama Indonesia Kuba telah terjalin sejak lama. Bung Karno mendapat tempat yang istimewa dalam hati masyarakat Kuba. Kerjasama ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Kita dapat mengambil manfaat dari pengalaman dan teknologi yang dikembangkan Kuba. Sebaliknya kerjasama dengan Indonesia akan membuka pasar ASEAN bagi produk Kuba. Namun yang lebih dalam dari itu kerjasama antar negara non blok ini tidak hanya untuk kepentingan ekonomi tetapi juga disertai semangat untuk  membangun kemampuan masing-masing.  

 

(Samsuridjal Djauzi, Staf Pengajar Universitas Indonesia)   

About Me (taken from Kompas)

January 19, 2007

Welcome to my personal website diary. Right now is under construction. Please visit again in few days. You may send me email to: samsuridjal [at] yahoo [dot] com. Thank you.

Here is article taken from Kompas Media 4 Dec 2005 about me.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/04/persona/2264251.htm

Samsuridjal Djauzi

Agnes Aristiarini

”Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin.”

Surat An-Nisa : 36 yang dikutip dalam buku pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) setahun lalu sungguh mewarnai hidup Samsuridjal sehari-hari.

Ditambah dengan sumpah kedokteran bahwa setiap dokter harus menolong pasien tanpa membeda-bedakan manusia dan penyakitnya, ia terima dengan tangan terbuka mereka yang terinfeksi HIV/AIDS, pengguna narkoba yang sudah tidak ada harapan sama sekali, anak jalanan, juga pekerja seks.

Ibunya, Djubaedah, yang amat peduli pada kesulitan orang lain sudah mencontohkan bagaimana menerapkan ayat itu dalam kehidupan sehari-hari.

”Ibu banyak memengaruhi saya, terutama menumbuhkan empati dalam kehidupan saya sebagai dokter,” kata Samsuridjal suatu siang di ruang kerjanya di Subbagian Alergi Imunologi Klinik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Pernah suatu ketika, ada remaja Kebun Kacang, Jakarta Pusat, yang tidak bisa berjalan karena kakinya bengkak besar. Mendengar Puskesmas Kampung Bali memberi pengobatan ketergantungan narkoba cuma-cuma, ia datang dipapah ibunya. Kondisinya yang parah membuat ia harus dirujuk ke rumah sakit.

Pemuda itu pengangguran, cuma lulus SMP. Ia menjadi joki—calo jual beli narkoba—sekaligus pakai sendiri. Ibunya berjualan lontong sayur di pagi hari, tapi modalnya lebih sering dihabiskan oleh si anak.

Ekstremnya, tidak ditolong pun tidak apa-apa. Namun, Samsuridjal tetap mengulurkan tangan, membantu biaya perawatan rumah sakit dan keperluan obatnya. Ternyata levernya bermasalah terkena hepatitis C berat, selain tentu saja terinfeksi HIV/AIDS.

Pemuda itu masih hidup sampai sekarang, namun tetap saja bermasalah. Sempat baik dan menjadi penyuluh HIV/AIDS, terakhir ia masuk penjara karena tertangkap basah menggunakan narkoba.

Sedangkan ayahnya, Djauzi, meski sering bepergian berdagang tekstil untuk menambah penghasilannya sebagai guru, memberi teladan untuk hidup jujur, sederhana, menghormati hak orang lain, dan bekerja keras. ”Nilai-nilai yang mereka ajarkan menjadi modal besar dalam menjalani pendidikan dan karier saya,” tambahnya.

Semua yang mengenalnya memang sepakat bahwa Samsuridjal amatlah low profile meski banyak karyanya yang bergaung nasional. Ketika masih menjabat Direktur RS Kanker Dharmais, misalnya, mobilnya cukup sedan Timor.

Ketika sudah menjadi doktor dan bahkan kemudian guru besar, ia meminta atribusinya tetap dokter saja di rubrik kesehatan Kompas Minggu. ”Di situ saya jadi dokter keluarga,” begitu alasannya.

Padahal, bersama sahabatnya, Prof Dr dr Zubairi Djoerban SpPD (KHOM), ia mendirikan Yayasan Pelita Ilmu (YPI) yang mengenalkan pencegahan HIV/AIDS dan memberi dukungan pada pasien dan keluargnya. Mereka pula yang aktif di Kelompok Studi Khusus AIDS (Pokdisus) FKUI/RSCM, mengembangkan layanan HIV/AIDS di berbagai rumah sakit, merintis obat murah untuk pasien yang akhirnya berkembang menjadi obat gratis dari pemerintah, mengembangkan pengobatan narkoba berbasis masyarakat di Kampung Bali, dan masih banyak lagi.

Kedua anaknya yang menjadi dokter—dan menikah dengan dokter pula—pilihannya juga terinspirasi sang ayah yang tidak pernah diskriminatif, yang selalu siap dipanggil pasien bahkan pada pukul 03.00 dini hari di Samarinda, tempat keluarga Samsuridjal tinggal selama lima tahun (1976-1981).

Merintis pencegahan

Mengapa tertarik AIDS?

Karena bidang saya imunologi, jadi terkait dengan kekebalan tubuh. Pada pertengahan 1980-an, ketika persoalan HIV/AIDS mulai muncul di dunia, Pak Zubairi baru pulang dari Perancis. Kami ngobrol-ngobrol. Selain dia belajar banyak tentang limfosit di sana, di berbagai kawasan sudah muncul kasus HIV/AIDS, termasuk Thailand yang sudah tergolong berat.

Kami berpikir, mumpung di Indonesia belum terjadi kenapa tidak diupayakan saja pencegahannya. Maka, mulailah kami penyuluhan di sekolah-sekolah. Waktu itu Sabtu belum libur, masih ke kantor setengah hari. Jadi, kami penyuluhan pulang dari kantor.

Saya masih ingat, Pak Zubairi punya mobil kijang untuk mengangkut overhead projector, layarnya, bahkan air minum kemasan dan camilan. Itu tahun 1986-87, persis di awal-awal HIV/AIDS muncul di Indonesia.

Sekolah bersedia?

Wah, tidak. Sekolah-sekolah yang ditawari umumnya menolak, karena mereka merasa sekolahnya sekolah baik-baik sehingga tidak perlu ceramah HIV/AIDS. Rupanya mereka mempersepsikan yang kena HIV adalah yang tidak baik-baik. Ya untungnya ada koneksi teman-teman kepala sekolah, guru, sehingga kami bisa masuk ke beberapa sekolah.

Penyuluhan makin sering setelah Yayasan Pelita Ilmu didirikan 4 Desember 1989, karena dengan adanya YPI ada tenaga-tenaga bantuan bukan dokter, termasuk istri Pak Zubairi yang alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Lalu data pengetahuan siswa sebelum dan sesudah penyuluhan yang dicatat dari total 100-an sekolah setelah 1-2 tahun berjalan, kami ajukan dalam pertemuan jaringan epidemiologi nasional. Data itu menunjukkan rendahnya pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dan pentingnya mengintervensi mereka.

Mulailah lembaga donor tertarik sehingga yang tadinya anggaran kue dan air minum kemasan dari kantong sendiri, sekarang ada yang membiayai.

Penyuluhan di sekolah berkembang tidak hanya di SMA, tetapi juga di SMP setelah kami tahu justru pemahaman masalah seksual diperlukan sejak SMP. Sebaliknya, kasus HIV/AIDS juga mulai berdatangan sehingga penyuluhan juga mencakup rumah sakit, tenaga kesehatan, sampai ke permukiman.

Bagaimana RSCM sendiri?

Itu juga pengalaman menarik. Operasi pertama pasien HIV/AIDS di rumah sakit ini perjuangannya tidak mudah. Masih ada yang ketakutan kalau berkontak atau dekat-dekat. Maka, terjadi lempar-lemparan antara ruang operasi depan dan belakang, mana yang bersedia digunakan. Lama tak ada tanggapan, akhirnya direktur RSCM memutuskan operasi di belakang, tempat yang biasa dipakai untuk operasi terencana.

Negosiasinya berat, saya bahkan sampai harus membeli bleaching—cairan pemutih baju—untuk mensterilkan ruangan pascaoperasi sampai ke plafon-plafonnya.

Akan tetapi, setelah pengalaman pertama itu, semua jadi punya keyakinan. ”O, cuma begitu.” Ini yang memperlancar operasi-operasi berikutnya, termasuk bedah caesar, hemoroid, dan sebagainya.

Sekarang hampir semua rumah sakit di Jakarta sudah merawat pasien HIV/AIDS dengan baik. Operasi mata, jantung, atau usus buntu pada mereka juga berjalan baik. Sepanjang universal precaution diterapkan, tak ada yang perlu ditakutkan.

Kalau perkembangan YPI?

YPI sekarang punya 10 kegiatan di 10 lokasi, dengan 80 anggota staf yang dibayar dan puluhan relawan. Kegiatan yang masih jalan terus, misalnya, program AIDS di sekolah, anak jalanan, anak yang dilacurkan, dan sanggar sebagai rumah singgah untuk keluarga dan pasien HIV/AIDS belajar hidup bersama. Mereka bisa tinggal dua hari, makan dan tidur bersama. Barangkali ini yang pertama di Indonesia.

Yang lain adalah klinik remaja di Bukit Duri, klinik keluarga di Jatinegara, dan program harm reduction di Kampung Bali untuk pengguna narkoba suntik.

Kenapa Kampung Bali?

Saya tinggal di sana sampai lulus menjadi dokter. Anak-anak yang terkena narkoba adalah anak teman-teman saya.

Akan tetapi, ada yang membuat saya tersentuh. Saya pernah menolong remaja yang sudah tidak sadar di dalam gerobak, di pasar loak dekat situ. Pemuda itu dehidrasi berat, namun tertolong setelah diinfus. Mengaku umur 18, kemudian saya tahu ia baru 16. Setelah keluar masuk rumah sakit, akhirnya ia meninggal.

Ia empat bersaudara, dua kakaknya meninggal duluan karena narkoba. Belakangan, adiknya meninggal juga. Padahal, ayahnya cuma kuli tekstil di Tanah Abang. Bayangkan penderitaan keluarga sederhana ini, empat anaknya habis dengan penyebab yang sama.

Kampung Bali tidaklah amat istimewa dibandingkan dengan yang lain. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengakui, tidak ada kecamatan di Jakarta yang bebas narkoba. Mungkin lebih karena saya punya ikatan emosional di situ.

Narkoba dan AIDS

Saat ini peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia sebagian besar disumbang oleh pengguna narkoba suntik. Kalau Badan Narkotika Nasional (BNN) mengestimasi jumlah pengguna narkoba suntik 575.000 dan 60 persennya tertular HIV/AIDS, maka paling tidak ada 340.000 kasus. Ini baru dari kalangan itu saja, belum termasuk hubungan seksual yang tidak aman. Dengan demikian, angka perkiraan HIV/AIDS 90.000-130.000 kasus perlu dikoreksi lagi.

Berkat rintisan Pokdisus—yang tahun 2001 ke India untuk mendapatkan obat generik antiretroviral (ARV) murah, kemudian berkembang menjadi produksi obat sendiri oleh Indo Farma dan akhirnya disediakan pemerintah secara gratis—banyak pengidap HIV/AIDS bisa menjaga kesehatannya, meneruskan hidupnya dan tetap produktif.

”Harga obat generik yang semula Rp 380.000 per bulan lalu menjadi gratis, berarti sekali di Indonesia,” kata Samsuridjal.

Saat ini yang sudah tercakup obat murah Pokdisus sekitar 2.000 pasien, sedangkan di seluruh Indonesia 4.500-an.

Maka ketika Indonesia ikut program Organisasi Kesehatan Dunia 3 by 5, artinya pengobatan bisa mencapai target 3 juta orang tahun 2005, infrastrukturnya sudah tersedia. Salah satunya adalah pemeriksaan virus yang dibawa Pak Zubairi dari Perancis.

Tanpa pengalaman penyediaan obat generik murah, untuk mengembangkan pemeriksaan saja akan perlu waktu setahun lebih. Belum lagi melatih orang untuk mengerti tentang ARV, manfaat, cara pakai, maupun efek sampingnya. Jangan-jangan tahun ke depan baru persiapan.

Meski sekarang terasa menguntungkan, ketika memulai Samsuridjal dan Zubairi sering dianggap orang bergerak terlalu cepat. ”Namun, latar belakangnya adalah karena kami berhadapan langsung dengan pasien. Orang lain mungkin bisa bilang bikin perencanaan dulu, dinilai dulu, yang bisa berlangsung sampai enam bulan. Padahal, setiap keterlambatan ada dampaknya,” papar Samsuridjal.

Ada yang masih memprihatinkan dalam layanan pasien?

Layanan yang ada masih heterogen. Ada yang baru mulai, ada yang kasusnya banyak. Jadi, keterampilan belum merata.

Makanya kami menawarkan program magang. Satu tim yang ada dokter dan perawatnya, bersama-sama merawat pasien di RSCM atau di RS Kanker Dharmais. Biasanya setelah itu, kalau ada kasus sudah percaya diri.

Anda begitu sibuk. Apa masih ada waktu menikmati puisi?

Ha-ha-ha…. Ada, ada. Kalau mas Taufiq Ismail atau Rendra biasanya saya kejar. Juga kalau ada film bagus dan pergelaran sastra, saya usahakan hadir.

Musik, puisi, film, novel bisa mengasah kepekaan untuk berempati pada orang lain. Saya percaya, kalau hati kita diumpamakan ada senarnya, maka menikmati seni bisa memperhalus senar untuk bergetar sesuai penderitaan orang.